Sabtu, 29 Desember 2012

Just Another Random Day

Hemm.. gue baru pulang nonton midnight. Film yang gue tonton Habibie & Ainun. Random? Ga juga sih.

Tadi gue pulang dari kampus jam 2, beres presentasi maninfo langsung balik ke kosan. Niat tidur siang eh malah main game. Kosan masih kosong. Sepi. Cuma ada gue sama Teh Nunuy. Sorenya, ternyata Alifa balik ke kosan. Aseeek! Jadi ada temen :D

Tiba-tiba, "Udah nonton Habibie & Ainun?". "Belum". "Nonton yuk!". "Yoook!". Akhirnya gue nonton. Niat nonton yang jam 8 tapi ternyata ga kebagian tiket. Diputuskan nonton yg jam 21.55. Begitu liat harga tiket Rp 50.000,00?! Njir, gue bokek. Tapi terlanjur jadi ya sudahlah. Ah, mana gue baru beli screen protector seharga 100rb lagi. Totally brooooke! Jangan ajak gue ngapa-ngapain lagi sampai akhir bulan ini ya....

Nunggu 2 jam. Makan sambil ngobrol di KFC.
21.51 : berangkat ke bioskop. Duduk manis sebentar dan film pun dimulai. Mau ngebahas sedikit tentang filmnya.

Habibie & Ainun

Sebuah film yang digarap Hanung dan diangkat dari tulisan seorang Habibie. Kisah presiden ke-3 Indonesia dengan seorang wanita yang ada hidupnya selama 48 tahun.

Dibuka dengan adegan di sekolahan jaman SMA. Habibie muda dan Ainun muda. The two brightest students at school. Masuk ke cerita Habibie sudah di Jerman tahun 59 lalu pulang ke Indonesia. Mereka berdua pun dipertemukan kembali dan akhirnya menikah sebelum kembali lagi ke Jerman.

Karakter Habibie yang diperankan oleh pemerannya (ga pernah apal nama artis) acungan jempol deh buat gaya bicaranya. Mirip banget sama Pak Habibie. BCL sebagai Ibu Ainun juga dipuji sama Pak Habibie aslinya. Hanya saja, begitu pertama kali muncul di Jerman dengan jas coklat, gue berpikiran kayak Mr. Bean :D

Dari film ini, gue juga suka nuansa dan warna yang diberikan. Tapi sayang, banyak iklannya -_-, kayak chocolatos, terus ada beberapa barang yang seharusnya dulu belum ada juga. Microsoft wordnya 2007 padahal tahun 1990an akhir, laptopnya juga Dell yang termasuk baru. Hal-hal seperti itu sayang banget ga bisa dikejer propertinya. Terus kalo mau nampilin iklan ga usah segitunya juga lah. Satu lagi pas Pak Habibie diangkat jadi wakil presiden dan fotonya disandingkan dengan Pak Harto. Kenapa ga foto asli aja? Padahal foto Pak Hartonya asli. Make upnya juga jelek bangeeet. Pas pemerannya pada tua, masih keliatan muda banget gitu.

Balik ke ceritanya. Kalo kata abg labil pasti bilang, "co cwiiiit". Filmnya memang romantis dan ternyata Pak Habibie seromantis itu :O (dan gue masih ga percaya ada lelaki sebaik itu, haha). Beliau rela jalan kaki jauh sepulang kerja ketika perekonomiannya belum stabil. Bu Ainun yang memang kuat. Pintar dan hebat. Jarang sekali mengeluh. Cerita seputar orang besar nan hebat yang dimiliki negeri ini. Insinyur mesin dan dokter. Sampai akhirnya menjadi menteri hingga presiden. Diceritakan pula konflik-konflik yang biasa terjadi dan dihadapi para petinggi negeri ini. Gue sempat berharap andaikan para petinggi negeri ini memilik prinsip dan bersikap layaknya Pak Habibie. Betapa makmurnya negeri ini jadinya. Just a wish.

Kisah tentang penerbangan perdana N250. Disaksikan presiden dan menjadi hadiah ulang tahun Ibu Ainun :3. He made his promise. Sediiih waktu Habibie kembali ke hangar dan menangis karena meratapi suatu hal yang bisa menjadi besar, namun bangsa kita sendirilah yang masi belum bisa percaya akan kekuatan sendiri :(.

Kisah seorang jenius yang ingin mengabdi pada ibu pertiwi. Film ini selain menunjukkan keromantisan pasangan Habibie Ainun, juga menambahkan nilai patriotisme keduanya. Oh iya, ketika gue nonton, sempat teringat kata-kata papa. He said that di balik orang-orang besar selalu ada wanita tangguh whether it's a mom or his spouse. Seperti Ibu Ainun untuk Pak Habibie, Ibu Tin untuk Pak Harto, dan banyaj contoh lainnya. Wanita yang selalu ada untuk menjaga mereka, mengerti mereka, dan ya tangguh.

Overall, a really great story (and it's a true one) and a good movie. Romantis, patriotis, sedih. Ya, sedih. Terbukti dari banyak orang yang nangis. Rrrr. Mungkin kecuali gue. Tapi, filmnya sedih beneran kok. Guenya aja yang susah nangis dan susah terharu apalagi cuma nonton. Walaupun tau itu based on true story. Hehe.

Ok then. That was the story.

Kamis, 27 Desember 2012

The Silence

Well, today is Coldplay's Day! Since morning I turned my laptop on to do my final assignment (such a good term to say TA in English), I put all Coldplay's songs to my playlist. For almost a day, I didn't go out from my room. I didn't have lunch and hardly drank for a day. Why didn't I just fast instead? -_-

I wanted to go to campus for my friends' internship seminar but I haven't got ready when the time came. So, I decided to just stay here, laying on my bed, doing my assignment while playing game (it should be on the other way). I wasn't hungry at all so I just continued what I was doing back then.

The vocal of Chris Martin and the instruments the other guys played accompanied me for the rest of the day until I heard Adzan. Wew, it was Maghrib already. Time passed by. I did Maghrib and my mom called. I lied a little on the phone, I said I had eaten something just to not make my mom worried. I started to feel hungry after that call. Trying to avoid my hunger, I played another game. I was thinking, I didn't wanna get sick even more I still got a lot of things to be done. So, I overcame my laziness. I got up from my bed and went to the food stall near my place.

There was only me and the niece of the owner of the house. The street wasn't crowded as it used to be, so was the food stall. There were only four customers including me. I made the same order I used to have, calamari with hot sweet tea. Ah, the silence surrounded me with the cold weather after rain. A cup of tea could warm me up, it calmed me down. I felt blessed but it was just too quite after all.

Back to my room with a full belly, turning on my TV so I could hear any crowded sound. Opened up my laptop and here I am (again) in my blog. I only got four pages today, and I could not continue my duty tonight. Just wish I could make it tomorrow :)

Panduan Lengkap Kakao

After looking for this book for over 3 weeks in 3 Gramedia in 2 cities, I finally found this book :)
It came in such a weird way. I was looking for this book with every single possible key word in Google and got NOTHING. But when I googled ''Tjitrosoepomo (1988)", I've got this one. Thanks God!!!

Rabu, 26 Desember 2012

Progress = Stagnan

Galau cin(TA) buat anak tingkat 4 itu sangatlah wajar. Semester ini, saya mengambil mata kuliah Tugas Akhir 1. Mata kuliah 2 sks yang cukup lumayan membebani pikiran. Pertama, kita harus menentukan topik TA, kemudian mencari pembimbing. Mencari paper untuk dibaca, ya saya tekankan lagi, UNTUK DIBACA! walaupun kenyataannya banyak yang tidak saya baca. Haha.

Topik TA saya pun pada akhirnya adalah expert system a.k.a sistem pakar. Saya memilih expert system (frame based expert system lebih tepatnya) karena ketika membaca salah satu buku AI di perpus, ada kata-kata 'demon' disitu. Saat itu sudah deadline penyerahan topik yang mungkin dipilih juga, alhasil, saya  memutuskan untuk mengambil topik tersebut. Domainnya? Ah, nanti saja.

Langsung saya mengirim email ke dosen wali untuk berkonsultasi, tepat di hari terakhir PRS (Pergantian Rencana Studi), email saya baru dibalas dan saya langsung mendatangi dosen wali saya tersebut. Topik yang saya ambil berkaitan dengan mata kuliah Sistem Berbasis Pengetahuan. Mata kuliah  yang pada awalnya memang salah satu mk yang ingin saya ambil tapi entah mengapa tidak jadi. Oleh karenanya, saya disuruh mengambil mk tersebut, namun jadwalnya bentrok dengan BDNR (Basis Data Non Relasional). Alhasil, saya tetap memilih BDNR dibanding SBP.

Konsultasi pertama, saya masih bingung mau memilih domain apa untuk expert system-nya. Bingung. Pusing. Galau. Namun, harus segera diputuskan. Terpilihlah hal yang berkaitan dengan coklat sebagai domainnya. Alasan memilih coklat? Everyone who knows me must know that I really really love chocolate :)

Domain terpilih. Saya harus mencari seorang pakar di bidang tersebut. Jalan mencari pakar, alhamdulillah cukup dimudahkan. Oh iya, saya akhirnya memilih sistem pakar untuk opt tanaman kakao. OPT itu singkatan dari organisme pengganggu tanaman. Saya pun mencari kontak dosen universitas sebelah di fakultas pertanian. Dosennya baik dan sangat membantu. Dari beliau pun, saya dikenalkan dengan Ibu Kepala Penelitian Tanaman Kakao dari ICCRI Jember.

TA saya memang masih jauh dari kata beres. Hari ini saja, saya baru akan mulai mengerjakan bab 2. Bab 1 masih revisi juga sih -_-. Tanggal 22 Desember kemarin saya sempat pulang kampung membawa laptop, namun saya tidak bisa dan tidak mau mengerjakan TA dulu. Ingin istirahat sejenak karena sudah terlalu jenuh. Salah satu alasannya lagi adalah charger laptop saya tertinggal di sekre 2 dan saya tidak punya akses kunci sekre 2. Hahaha. Bodoh ya.

Nah, hari ini saya pun kembali ke Bandung. Berangkat dari Kota Udang tercinta yang super hoooot menuju Kota Kembang yang super maceeet dari pagi dan baru sampai sore. Hoft. Langsung menuju Warung Pasta karena sudah janjian akan mengerjakan tugas bersama Hapsari, Emil, dan Nunu di sana. Tubes selesai selepas Isya, berniat mengerjakan TA eh malah terdistraksi oleh hal lain dan blog ini juga :). But that's ok! I just need to work much harder! Much much much harder! Mohon doanya ya. Semoga semua urusan kita dilancarkan dan dimudahkan. Amin.

*iket kepala* *buka word* *NeA*

Selasa, 11 Desember 2012

Ladies' Day ~ Ice Skate

Wew, sudah lebih dari satu bulan gue nggak posting :(. Resolusi gue buat tahun 2012 ini pun gagal (lagi), yaitu posting minimal satu kali sebulan. Ah, kelewatnya di bulan November lagi, huhu. Ya sudah lah.

Let's just make a story about today.
Rencana gue dan teman-teman mau ngapain hari ini sudah dibuat sejak minggu lalu. Memang mau ngapain? Gue dan ceciwi lainnya mau main ice skate! Hehe. Sebagai mahasiswa, tentu saja kita diuntungkan secara finansial juga dengan KTM yang kita miliki. Nah, di tempat ice skate satu-satunya di Bandung ini -red: GardenIce-, kita bisa memperoleh diskon 40% dari harga awal. Hanya dengan menunjukkan KTM, kita bisa bermain sepuasnya di sana dengan membayar Rp 36.000,00 saja :O. Sebenarnya, yang bukan mahasiswa juga bisa kok dapat diskon 40%, ada happy hour tiap Senin-Kamis jam 10.00-13.00. Ini gue malahan promosi. hahaha.

Courtesy of Melati Budiana Putri photos

Jadi, tadi siang akhirnya gue bertujuh bareng Sasri, Agast, Hapsari, Nadin, Bobi, dan Riza meluncur ke PVJ sekitar pukul 11.30. Haduh, gue minta maaf banget nih sama kalian. Gue lupa hari ini janjian jam 11 gara-gara gue tidur dan terlalu kebo :(. Alhasil kita ngaret setengah jam. Ampuuuuun! Sesampainya di sana, kita langsung menuju mushola buat sholat. Lanjut makan di tempat Bapak Tua Berjanggut Putih yang jualan ayam goreng tepung. Awalnya mau masuk Rajanya Burger, tapi tidak jadi untuk suatu alasan, hehe. Beres makan, kita langsung ke tempat ice skate. Beli tiket. Pinjem sepatu. Pake sepatu. Dan meluncuuuuur di atas es!

Yang paling jago, tentu saja: Nadiiin the mastah, terus Sasri sang coach baik hati :3. Gue? hahaha. Cuma bisa asal meluncur dan nggak bisa ngerem. hehe. Bahkan, gue memalukan karena sok-sokan gaya ngikutin anak kecil yang unyu-unyu dan super jago ice skate itu terus malah jatoh di tempat *malu-maluin*. Mau ngasih liat fot-fotonya tapi ada di Bobi. Ntar gue upload juga di sini kalo udah dipublish sama Bobi, yak. Hohoho.

Rabu, 24 Oktober 2012

Belajar dan Bermimpi di Kelas Maninfo

Bukan, saya bukan ketiduran di kelas Maninfo. Ya kali juga bisa tidur kalau dosennya Bu Putri. Hehehe.

Tadi pagi di kelas, beliau sempat sedikit menyinggung soal mimpi. Berawal dari basis data konseptual/logical yang benar-benar ideal masuk ke physical dan masuk lagi ke implementasi. Hal tersebut diibaratkan dengan mimpi. Di saat kita punya mimpi, mimpilah setinggi-tingginya tidak perlu memikirkan 'hal teknisnya' dulu. Boleh kita bermimpi dan mengkhayal seimajinatif mungkin. Toh mimpi yang sangat besar pun belum tentu bisa diwujudkan semua kan? Bahkan biasanya hanya secuil dari mimpi itu yang terwujud. Nah, itu lah konsep basis data yang dirancang seideal mungkin dan senormal mungkin untuk menghindari redundansi dan menjaga integritynya.

Kalau kita sudah bermimpi, tentu kita selanjutnya baru melihat realita yang ada di environment-nya kan? Di situ barulah kita akan menemui constraint lain sehingga tidak bisa memenuhi idealisme kita sebelumnya. Bahkan cenderung akan menemui banyak constraint dan hambatan. Sama seperti ketika kita masuk ke physical, saat itu kita sudah mulai membicarakan storage dan akses, bagaimana kita menggunakan storage seminimal mungkin dan mengakses (data retrieval) secepat mungkin sehingga performance-nya oke. Kita harus memperhatikan volume data dari masing-masing tabel dan juga frekuensi aksesnya. Saat itu juga mungkin akan terjadi denormalisasi untuk basis datanya. Yah, sudah capek-capek dinormalisasi sebelumnya kan? Sama saja seperti kita harus bisa memilah mimpi mana yang memang hanya angan belaka atau masih bisa dikompres dengan mimpi yang benar-benar bisa kita wujudkan.

Next, tahap implementasi. Yah, itu sudah dibahas di physical sih. Tinggal hal teknis yang tersisa di sini. Langsung diimplementasikan. Ini tahap konkret dari mewujudkan suatu impian :)

Pesan yang didapat dari kuliah pagi tadi:
Kita boleh menjadi seorang pemimpi, tapi ada kalanya kita harus menjadi realis.

Ada satu hal lagi yang sempat dibahas dan itu suatu hal yang pernah saya dan salah seorang teman saya perbincangkan di messenger. Tentang belajar. Belajar bukan hanya akademik kan? Di kala membahas seberapa besar scope tugas besar kami (peserta kuliah). Dosen tersebut akan memberitahu kalau scope kami terlalu kecil, tapi untuk yang terlalu besar akan membiarkannya sampai saat tertentu. Jadi apa kaitannya dengan perbincangan saya dan teman saya? Ini ada sedikit cerita tentang pembelajaran di organisasi sih, dimana mungkin ada pihak a yang terlalu baik dan selalu memikirkan pihak b yang masih perlu bimbingan. Semua pihak tentu masih perlu yang namanya bimbingan (graor, diksi ini malah membuat saya teringat bimbingan TA ~~). Jadi, untuk beberapa waktu pihak b ini sedang memiliki banyak masalah dan mungkin kemarin sempat 'jatuh' berkali-kali. Tapi, toh kalau mereka jatuh, disitulah letak mereka akan belajar kan? Namanya juga belajar, pasti pernah dan harus terjatuh, kalau belum pernah jatuh kita ga akan pernah belajar buat ngerasain sakit dan susahnya, kita juga ga akan pernah belajar buat bangun lagi dengan kekuatan sendiri. Intinya itu sih. Dibilang juga oleh dosen saya, orang sukses itu bukan orang yang selalu diberi kemudahan untuk melewati segala sesuatunya, melainkan orang yang terjatuh berkali-kali tapi selalu bisa bangun lagi.

~nice session~

Rabu, 26 September 2012

Mahasiswa Jadi-Jadian dan Media

Baru saja saya menyaksikan berita di televisi mengenai mahasiswa dari salah satu akademi di kota x. Tidak penting untuk saya sebutkan, karena kejadian yang akan saya ceritakan tidak hanya terjadi di tempat tersebut saja.

Sudah berkali-kali saya mendengar berita tentang mahasiswa yang membuat kisruh entah di dalam kampus ataupun di luar kampus ketika berunjuk rasa. Saya memang bukan seorang mahasiswa yang peduli terhadap isu sosial dan politik yang ada di negeri ini. Tapi, saya bukan mahasiswa yang senang melakukan tindakan tanpa pikir panjang.

Mahasiswa oleh sebagian besar masyarakat Indonesia itu dianggap sebagai segelintir orang berpendidikan. Alangkah baiknya kalau kita sebagai mahasiswa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Namun, berita yang baru saya lihat adalah mahasiswa yang merusak kampusnya sendiri. Memecahkan kaca jendela, melempar kursi dari lantai sekian lah, entah merusak apa lagi. Ugal-ugalan seperti itu pantaskah disebut mahasiswa? Menurut saya tidak.

Seringkali juga dikabarkan mahasiswa pengunjuk rasa yang membakar ban atau properti lainnya (bahkan  ada yang sampai membakar mobil). Adakah yang berpikir bahwa itu merusak properti dan aset negara? Yang kalau kita merusaknya malah menimbulkan kerugian untuk sebagian pihak. Sebagai mahasiswa, tentu saja kita ingin memperbaiki negara ini, bukan? Kalau tindakan yang dilakukan mahasiswa seperti itu, menurut saya tidak pantas disebut sebagai mahasiswa, tidak pantas disebut sebagai para pemikir, tidak pantas disebut sebagai calon penerus bangsa ini.

Well, saya hanya ingin meluruskan juga di sini kalau tidak semua mahasiswa seperti itu. Sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa yang sesungguhnya kok. Masih seorang manusia pembelajar yang berusaha memperbaiki negeri ini dengan caranya masing-masing. Hanya saja, media sekarang memang selalu membesar-besarkan sisi negatif dari suatu kasus. Mungkin agar beritanya menarik karena orang-orang sekarang tidak suka menyaksikan berita baik atau positif. Saya hanya berharap saja kalau media di negara kita ini bisa memberikan pengaruh positif bagi masyarakat kita dan tidak hanya mengejar 'rating' sehingga hanya memberikan informasi tidak penting bagi masyarakat. Pembunuhan, tawuran, bacok-bacokan, korupsi, gen motor, sinetron yang tidak mendidik dan hal buruk lainnya di negeri ini digembar-gemborkan dan bisa saja ditiru oleh generasi mudanya yang belum bisa mencerna dengan baik hal-hal tersebut.

~harapan dan sedikit curcol seorang mahasiswa tingkat akhir yang baru punya tv di kosan tapi sama sekali tidak menemukan acara bermutu~

Rabu, 19 September 2012

Topic Will Find Its Way

Sudah memasukki minggu keempat di tahun keempat. Saya sudah tidak memiliki kegiatan seabrek di luar akademis. Kebetulan sedang tidak memegang amanah apapun di himpunan. Fokus saya semester ini sepertinya hanya pada 22 sks dan part time yang sempat saya ceritakan sekilas di postingan sebelum ini. Satu masalah utama saya beberapa minggu terakhir ini adalah penentuan topik TA. Sebenarnya, sampai sekarang pun saya masih belum memiliki topik pasti apalagi dosen pembimbing. Di saat yang lain ada yang sudah mengajukan proposal, mulai mencari-cari bahan untuk tugas akhirnya, saya masih stuck dalam pencarian topik.

Sudah sering saya mengobrol dan bertanya ke teman, kakak-kakak angkatan, bahkan sudah sempat mengobrol dengan salah satu dosen. Tapi, entah mengapa keyakinan untuk menetapkan hati pada satu topik TA masih sangat sulit dilakukan. Mungkin benar apa kata Diani tadi siang, terlalu banyak constraint yang saya pikirkan. Padahal, dari obrolan-obrolan saya tersebut, saya seharusnya punya banyak cara menentukan topik.

Q. Kamu suka apa?
A. Saya pun bingung saya suka bidang apa.
Q. Buat saja satu aplikasi yang bisa berguna buat kita sendiri.
A. Saya tidak tahu apa yang saya perlukan.
Q. Temukan permasalahan apapun yang selama ini kamu lihat, kemudian coba cari solusinya.
A. I dont see any problem around me. There must be lots, but none is considerable for me.
Q. Ya udah, kalau gitu coba saja mulai memangkas pilihan lab/kk dari yang kamu paling tidak suka.
A. SisTer pasti tidak akan saya pilih, never ever ever. Sepertinya sudah cenderung memilih membuat aplikasi a.k.a terpaksa ngoding agar cepat lulus (*)

(*)bukan percakapan dengan satu orang

Akhirnya, tadi siang untuk kedua kalinya saya pergi ke perpustakaan IF guna mencari topik. Saya ke sana dengan Chita sepulang dari Gramedian dan BIP bersama Diani. Bertemu dengan coach Gabun di perpus dan dibilang GAIB itu bisa cepat lulus. Sedikit lebih memantapkan hati untuk memilih lab GAIB setelah ditambahkan dengan 'konsultasi' bersama Diani di Gramedia sesaat sebelumnya.

Mulailah saya mencari textbook yang berkaitan dengan Artificial Intelligence di rak-rak buku. Membaca judulnya, terlihat menarik atau tidak, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Hingga tibalah saya pada rak buku hampir terakhir yang mau saya lihat. Berwarna jingga dengan gambar seperti Tazmania Devil. I picked that up just to show Chita what I've found. A cute book of Artificial Intelligence.

Saya: Chit, chit, chit. Lihat deh! Onyo gini bukunya. Coba kemarin AI bukunya ini, semangat dah belajarnya. #eh
Chita: Dibacalah.
Saya: Ga berani bukanya.
Chita: *ngebuka bukunya* *sang buku memperlihatkan tulisan-tulisan yang terlihat memalaskan dan juga statistik-statistik entah apa*
Saya: Ah, dalemnya tetep begini. *tapi karena bingung mau ngapain lagi, akhirnya memutuskan untuk membacanya* *masih berharap akan menemukan sesuatu yang menarik*

Mulailah saya dengan membolak-balikan halaman daftar isi. Ada satu judul subbab yang cukup menarik tentang german mechanics dan italian love. But that's not the one I see. Saya melihat kata demon di salah satu halaman dan tertarik membacanya. Ternyata demon tersebut ada di bab Frame-Based Expert System. Sepertinya menarik, saya lanjut baca sampai hampir pukul 2. Singkat cerita sekarang saya sudah menetapkan hati akan mengambil topik dengan konsep tersebut meskipun belum tahu konsepnya sebenarnya bagaimana karena baru membacanya sepintas. Saya juga belum tau konsep itu akan saya apa kan. Tapi, setidaknya saya sudah menentukan pilihan teman saya hingga tahun depan.

Terima kasih untuk semua orang yang telah saya repotkan dengan beragam pertanyaan berkaitan topik TA :)

Kamis, 13 September 2012

Decide What I Like!

One hardest thing to do for me is to decide. I never have such good ability in decision making for any problem even the light one. Recently, I have been facing a problem to decide which topic I am gonna choose for my final assignment. Every single person I have asked always asked me back about the same thing, 'What do you like?'. I know best that if you do what you like, you will enjoy doing it even though you do the hardest thing ever. Ya, as long as you enjoy your work and love what you do.

I have been an informatics engineering student for over three years now. It's my last year and I have to work on my final assignment in order to graduate as an engineer. But, after three weeks since the school has started, I still don't have any ideas for my topic. I have already asked my senior and anyone I could consult to, but still got nothing. How can I make any decision? I don't even know what I like. I always feel uncertain when making decision.

There are already about 50s topics for the final assignment, but I still can't pick one that is suitable for me. This weekend I must have submitted my choice. Oh, God! Why is making decision being this hard?

Kamis, 06 September 2012

Bersyukur :)

Di beberapa postingan sebelumnya, saya menulis tentang kecerobohan saya yang sudah menghilangkan ponsel saya untuk yang kedua kalinya. Nah, sekarang saya ingin bercerita sedikit betapa bersyukurnya saya saat ini.

Di saat saya kehilangan ponsel saya yang usianya belum genap 9 bulan itu, saya sedih. Tentu saja sedih. Tapi, karena diingatkan oleh ibu saya agar diikhlaskan saja karena mungkin memang bukan rezeki saya, saya sama sekali tidak menangis karena kehilangan tersebut. Ya sudah, ikhlaskan saja, walaupun melupakan cukup lama. Hahaha. Di tambah, ketua divisi saya di himpunan yang baru ganti ponsel yang sama seperti milik saya yang hilang kemarin juga memakai ringtone yang sama untuk notifikasinya. Hoft. Teringat teringat. Tapi tetap berkata di dalam hati, ikhlas, ikhlas.

Ikhlas memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Sulit. Kalau ingat film lama, Kiamat Sudah Dekat, ilmu ikhlas lah yang dipelajari pada tingkatan yang tinggi dalam memeluk agama Islam. Di saat kita sudah menjadi master ilmu ikhlas, sepertinya hidup ini akan selalu tenang. Seperti selalu diingatkan kalau apapun yang kita miliki saat ini, sebenarnya hanyalah milik Allah semata. Kita semua hanya dititipkan barang-barang tersebut oleh Allah. Tapi, kita juga harus menjaganya dengan baik.

Mungkin, kemarin saat kehilangan ponsel, masih ada hak orang lain di situ yang belum tersampaikan. Mungkin, saya masih dianggap belum cukup baik untuk menjaga amanah berupa ponsel Samsung Galaxy Y tersebut. Mungkin, Allah ingin mengajarkan saya ilmu ikhlas. Mungkin, Allah ingin memberikan rezeki yang lebih kepada saya setelah membersihkan 'kekayaan' saya. Mungkin, saya diingatkan untuk lebih banyak bersedekah, untuk lebih bisa menjaga amanah yang diberikan-Nya akan barang-barang yang dititipkan kepada saya. Mungkin, saya diingatkan untuk lebih bersyukur akan apa yang saya punya. Mungkin, ya, mungkin masih sangat banyak pembelajaran dari kehilangan tersebut.

Rezeki itu kata orang tidak akan pergi kemana. Sepertinya kali ini hal tersebut saya rasakan secara langusung. Hampir dua minggu sudah saya kehilangan ponsel. Tidak, ponsel saya tentunya tidak kembali. Oleh karena itu, saya berencana untuk menabung. Saya sedang menabung untuk membeli ponsel baru. Saya tidak berani meminta begitu saja kepada ayah saya karena baru menghilangkan ponsel. Menabunglah saya. Sudah mulai mengurangi pengeluaran yang sekiranya tidak perlu.

Tiba-tiba, kemarin malam, salah seorang senior saya di himpunan mengirim pesan melalui salah satu jejaring sosial *yang baru saya buka tadi siang*. Isinya mengenai lowongan kerja part time. Beberapa hari yang lalu, saya memang sempat ingin bekerja part time, tapi saya yakin tidak akan diizinkan oleh orang tua saya. Kalau kata teman saya, 'mroyek lah'. Hadeuuh, saya terlalu pemalas untuk ikutan proyek. Saya ingin pekerjaan yang sederhana, tidak memakan banyak waktu, dan tentu saja mudah untuk dikerjakan. Daaaan, saya mendapat tawaran pekerjaan tadi siang. Masih belum pasti sih, namun hampir pasti sepertinya. Setelah mendengar pekerjaan tersebut mudah, tidak merepotkan, dan gajinya yang cukup lumayan :). Alhamdulillah, rezeki memang tidak pergi kemana. Rencananya, hari Sabtu siang besok saya akan bertemu dengan salah seorang dosen untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pekerjaan tersebut. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar. Amin.

Hanya Hal Sepele

Cerita super pendek.

Kemarin sore, saya pulang sekitar pukul setengah 6. Tepat di depan kosan saya, ada seorang pemuda membawa gitar dengan baju yang 'slengean'. Sepintas terlihat seperti pemuda tanggung yang 'berprofesi' atau iseng-iseng sebagai pengamen di perempatan. Pemuda yang terlihat pemalas dan pengangguran banyak acara. Itulah first impression saya ketika melihat dia sedang berjalan di depan kosan saya. Dan saya yakin, kebanyakan orang akan memiliki praduga seperti itu.

Beberapa meter dari pemuda itu, saya melihat seekor kucing kecil berwarna seperti Garfield yang berada di tengah jalan. Kemudian saya melihat pemuda tersebut bergerak mendekati si kucing kecil. Pikiran saya tentu saja akan diapakan kucing tersebut?

Ternyata, pemuda tadi mengambil kucing tersebut dari tengah jalan dengan cara mencubit leher kucing kecil tersebut seperti induk kucing yang membawa anaknya, lalu ia meletakkan kucing kecil itu di pinggir jalan, tepatnya di depan gerbang pintu kosan saya.

Sesaat saya sempat terkesima. Saya sendiri tidak mungkin melakukan hal sebaik itu terhadap binatang. Bukan karena tidak mau, tapi karena saya memang geli kalau menyentuh binatang. Itu memang hal kecil. Hal yang sangat sepele. Tapi, apakah kita akan melakukan hal yang sama? Pemuda yang penampilannya biasanya dicap kurang baik oleh masyarakat saja bisa berbuat seperti itu. Kita sebagai sesama makhluk Tuhan, akankah berbuat kebaikan kepada binatang?

Pertanyaan yang hanya masing-masing dari kitalah yang bisa menjawabnya. Hanya sebuah cerita untuk mengingatkan kita semua agar berbuat baik, meskipun hanya hal sepele :)

Selasa, 04 September 2012

Berkah Puasa

Ceritanya, hari ini saya syawalan. Sambil nunggu buka, ikutan kumpul divisi dulu di himpunan. Begitu adzan Maghrib, tidak lama kemudian kumpul divisi pun berakhir. Sholat. Eh, ada telepon masuk. Begitu diangkat, kakak saya menelepon untuk mengajak makan di H*n*m*s*. Wew, siapa yang nolak, kan? Kebetulan banget lagi kelaparan dan all you can eat!

Jam setengah delapan, saya dijemput di kampus dan langsung menuju TKP. Haha. Gila, saya makan berasa kerasukan. Porsinya terlalu luar biasa. Sebenernya masih ada beberapa makanan bulat-bulat yang tidak habis. Tapi setidaknya sudah minum sampai tiga gelas. Sudah makan makanan pembuka, main course dan pencuci mulut. Ah, jadi kepingin puding cokelatnya lagi.

Ini sayang banget fotonya ada di hape kakak saya. Jadi ga bisa pamer. Huwahahahahaha. Anak kosan kalau dapat makan gratis kayak begini memang jadi too excited. Saya sampai hampir tidak bisa jalan begitu keluar dari TKP ke parkiran. Untung diantar sampai kosan. Mengantuk karena kekenyangan, tapiiii harus mengerjakan tugas untuk kuliah pagi besok. Hoft, derita mahasiswa. Ini juga baru selesai mengerjakan tugas tersebut and it's time to sleep now. Tapi, masih kekenyangan. Alhamdulillah, habis dapat rezeki yang tidak mungkin ditolak. Haha.

Minggu, 02 September 2012

Secepatnya, dong! :D

Sedih lagi deh mikirin handphone yang hilang. Padahal kemarin saya sudah merencanakan apa yang ingin saya beli di semester ini. Tapi, tidak semuanya selalu berjalan sesuai rencana kita kan? Sudah ikhlas kok berpisah dengan handphone mungil saya tersebut.

Liburan bulan puasa kemarin, saya sempat bilang ke ayah saya untuk dibelikan televisi. Sebenarnya, saya sudah meminta tv dari semester lalu. Namun, ayah saya masih bertanya untuk apa? Toh, saya jarang sekali ada di kosan. Saya pun tidak bisa membantah argumen tersebut karena memang saya jarang berada di kosan dan tentu saja tidak ada manfaat dari televisi tersebut untuk saya.

Memasukki tingkat empat, karena sudah sangat jarang ada tugas kelompok yang akan membuat saya terpaksa menginap di kampus saya coba untuk berargumen lagi dengan ayah saya. Salah satu alasan yang saya berikan tentu saja untuk menemani saya mengerjakan tugas akhir di kosan. Bosan kalau harus berhadapan dengan laptop di kala istirahat. Biasanya, saya memang berisitirahat dengan sekedar menonton film di laptop, bermain game di laptop, browsing 9gag di laptop, dan melakukan kegiatan 'bersenang-senang' lainnya dengan menggunakan laptop. Haha. Laptop yang saya beri nama Kira ini memang teman terdekat saya dan yang sangat setia menemani saya 24/7 :D

Pada akhirnya, ayah saya sudah bilang akan membelikan saya televisi. Kapan? Masih belum jelas. Tadi sore, ketika saya iseng telepon ke rumah, saya pun mengobrol dengan ayah saya. Isinya tidak jauh dari ingin minta dibelikan handphone baru dan televisi. Kalau handphone, ya, masih disinggung tentang kelalaian saya yang sudah dua kali kehilangan handphone. Jadi, saya alihkan saja topiknya ke tv :p. Akhirnyaaaa, ayah saya bilang akan segera membelikan televisi kalau beliau ke Bandung. Rencananya akhir bulan September ini atau awal bulan Oktober mendatang. Yah, semoga saya bisa kembali menyaksikan acara tv kesayangan saya. hehe.

Sudah lama, saya tidak begadang menonton bola. Sejak piala dunia 2002 saya rajin begadang demi menonton pertandingan bola yang seru. Sampai saya SMA pun, saya lebih memilih begadang hari Senin dini hari padahal paginya harus upacara dan berpanas-panas ria sambil menahan kantuk karena begadang. But I love the game, so that's not a very big deal for me. Saya juga ingin bisa menyaksikan pertandingan seru lainnya seperti MotoGP dan F1. F1 yaaa apalagi F1 dimana Kimi Raikkonen sekarang sudah kembali ke lintasan F1. Kabar gembira yang saya dapat weekend ini pun, Kimi naik podium meskipun hanya podium ketiga. God, I miss seeing his flat face in conference :D

Semoga cepat dapat televisi. Saya pun sudah mulai menabung untuk membeli handphone sendiri. Pengen deh kerja dan menghasilkan uang sendiri agar bisa membeli apapun yang saya inginkan tanpa harus berargumen dengan orang tua dulu. Huhuuuu.

Time to Travel [Part 6]

Hari Minggu kemarin adalah hari terakhir saya berada di Kota Yogyakarta. Pagi sekitar pukul 8, saya sudah siap untuk perjalanan kembali ke Cirebon. Katanya, dua hari terakhir ini akan menjadi puncaknya arus balik 'mudikers' alias para pemudik. Berangkatlah saya sekeluarga menuju Cirebon menggunakan jalur pantura lagi.

Rencananya, kakak saya ingin mengunjungi rumah orang tua sahabatnya di Semarang. Siangnya, kami sempat makan di suatu restoran yang saya lupa namanya. Standard harga ya standard harga restoran, tapi cita rasa menurut saya biasa saja. Tapi, memang tidak terlalu manis seperti masakan daerah Jawa. Sehabis makan siang, kami mencari masjid lagi untuk sholat. Selepas sholat, lanjut menuju tol yang saya pun lupa namanya :p. Kami keluar dari gerbang tol Manyaran dan dijemput oleh sahabat kakak saya. Beriringan dua mobil menuju rumah teman kakak saya tersebut.

Pandanaran Semarang
Rasanya ada yang kurang kalau pergi ke Semarang, tapi tidak mampir ke pusat oleh-olehnya yang terkenal. Pandanaran. Mulai dari Bandeng, Bakpiak, Mochi, dan segala macam makanan khas oleh-oleh Semarang ada di daerah ini. Mampirlah kami di salah satu toko oleh-olehnya yang penuh sesak. Kalau melihat parkiran mobil sepanjang jalan, saya duga toko ini dipenuhi oleh warga Jakarta dan sekitarnya. Penuh sesak. Sudah malas memilih makanan untuk oleh-oleh, orang tua saya pun begitu. Akhirnya hanya membeli seadanya karena males bejubel dengan banyak orang seperti itu.

Keluar dari toko di Pandanaran, langsung menuju rumah teman kakak saya. Sesampainya di sana, langsung salam-salaman. Namanya juga masih suasana Idul Fitri. Silaturahim. Berbincang-bincang, mengobrol 'ngaler ngidul'. Selepas Ashar, kami pun pamit untuk kembali meneruskan perjalanan ke Cirebon.

Simpang Lima
Entah ada berapa sebenarnya Simpang Lima di Semarang. Saya menemukan banyak Simpang Lima yang dekat dengan Pandanaran, yang ada Lawang Sewunya. Ketemu lagi di suatu Simpang Lima yang ditengahnya terdapat taman. Sore-sore seperti itu banyak yang sedang sekedar berjalan bergerombol sambil mengobrol. Ada yang sedang bermain basket, bermain sepeda, bermain sepatu roda, atau sekedar mengajak anak kecil berjalan-jalan sore hari. Ramai ternyata Kota Semarang ini :)

Sempat diantarkan sampai Simpang Lima Pandanaran lagi oleh teman kakak saya. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Niatnya makan malam di Rumah Makan Sampurna yang kata ayah saya ada live Keroncongnya. Tapi, mungkin karena sudah malam live Keroncong pun sudah tidak ada dan karena makanan prasamanannya sudah hampir habis, kami memutuskan untuk makan malam di tempat lain saja. Di jalan, ketemu lagi dengan tempat makan ayam yang biasa. Ya sudah, makan saja di sana. Dikira semuanya akan sama. Namun, di tempat kali ini sepertinya ayamnya sudah tidak segar lagi dan yang diberikan adalah potongan ayam, bukan satu ekor ayam -__-. Argh, kurang nikmat.

Sempat berhenti di pom bensin dan ke mini marketnya untuk membeli pop mie dan roti guna mengisi perut. Nyamnyam. Wuih, ternyata perjalanan malam pun masih ramai dengan kendaraan berplat daerah Jawa Barat. Pasti ini arus balik. Untung ga sampai macet, hanya ramai saja. Hahaha. Maklum ga pernah mudik nih.

Saya sekeluarga sampai Cirebon sekitar pukul 1 dan kembali menginjakkan kaki dengan alhamdulillah selamat sekitar pukul setengah 2 dini hari. Makanya saya pun akhirnya bolos di hari pertama kuliah karena masih terlalu capek. Fufufu.

This is the end of my last trip story. Hopefully, will have another beautiful trip story soon. Enjoy!

RKSPL

Salah satu mata kuliah S2 Rekayasa Perangkat Lunak ITB, Rekayasa Kebutuhan Sistem dan Perangkat Lunak. Saya sendiri mengambil mata kuliah yang satu ini karena merupakan mata kuliah wajib untuk magister RPL. Hari pertama saya tidak masuk karena belum datang ke Bandung. Namun, isunya mata kuliah ini hanya akan berjalan setengah semester dengan alasan ingin sinkron dengan dua mata kuliah S2 lainnya. Untuk minggu ini sendiri, sudah ada tugas untuk membaca paper atau artikel mengenai system engineering dan software engineering. Dibuat rangkumannya yang mencakup definisi keduanya, serta persamaan dan perbedaan antara keduanya. Yah, bukan tugas yang terlalu berat memang, hanya sekedar merangkum. Sejauh ini, saya sudah menyelesaikan 2/3 tugas tersebut. Tapi, itu baru satu halaman. Saya bukan orang yang bisa menyampaikan suatu hal secara formal melalui tulisan dan memanjang-manjangkannya a.k.a 'nyampah'. Nah, sekarang saya bingung karena belum mencapai batas minimum halaman dan sudah tidak tahu lagi apa yang harus saya tulis. Alhasil, saya malah kembali membuka blog dan menceritakan hal ini. Haha.

Oh, iya. Sepertinya saya akan mengubah gaya menulis saya di blog menjadi semi formal. Salah satu alasannya karena saya ingin belajar menulis. Ya, menulis. Menulis menggunakan EYD dengan tata bahasa Indonesia yang benar dengan baik. Kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa tingkat akhir untuk mengerjakan Tugas Akhirnya :D. Well, semoga saya bisa melalui semester ini dengan baik.

Time to Travel [Part 5]

Wah, liburan gue uudah berakhir sejak satu minggu yang lalu. Namun, baru bisa posting lagi sekarang karena baru ada akses internet lagi.


Candi Borobudur

Keesokan hari setelah gue ilang hape di Pantai Parantritis, gue tetep jalan-jalan di Yogyakarta dan sekitarnya *ya iyalah*. Hari Sabtu, gue bangun pagi-pagi dan sekeluarga pergi ke Candi Borobudur. Candi Borobudur ini termasuk Candi Buddha yang terletak di Magelang, sekitar satu setengah jam perjalanan dari pusat kota Jogja, berjarak kurang lebih 40km. Candi Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia *dulunya, and it will always be for me*. Merupakan warisan budaya manusia yang sangat indah dan luar biasa. Sampai sekarang gue masih ga habis pikir bagaimana cara membangun candi semegah itu yang tahan berabad-abad. Papa cerita kalau pertengahan tahun 80-an beberapa stupa di Candi Borobudur hancur karena bom. Gue langsung cari berita tentang hal itu di internet dan memang 9 stupa hancur karena pemboman tersebut.

Yang menarik dari Candi Borobudur selain kemegahannya adalah relief-relief yang terukir di dinding batu candi tersebut. Relief-relief tersebut bercerita tentang suatu kisah yang gue sendiri lupa kisah tentang apa *maaf*. Kalau mau tau lebih lanjut tentang Candi Borobudur silahkan kunjungi situs Indonesia Travel http://indonesia.travel/id/destination/233/borobudur :p. Ada juga stupa-stupa yang didalamnya berisi patung Sidharta Gautama, serta tiga tingkatan pada Candi Borobudur, meliputi Kamadhatu yang paling bawah, Rupadhatu, dan Arupadhatu yang merupakan tingkatan para dewa. Bisa dilihat kutipan yang gue ambil dari wikipedia di bawah ini.


"Kamadhatu
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.[2]
Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[2] Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.
Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkanalam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adibuddha', padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara."



Untuk biaya masuk ke lingkungan Candi Borobudur ini akan dikenakan biaya sebesar Rp 30.000,00 untuk satu orang dewasa dan Rp 12.500,00 untuk satu orang anak kecil. Di sana juga sedang digembar-gemborkan tentang pemakaian batik. Bagi siapapun yang ingin mengenakan kain batik selama di wilayah Candi Borobudur, disediakan tempat peminjaman kain batik untuk dikenakan oleh para wisatawan, for free loh. Berhubung gratis, ya gue pake deh! Demi batik Indonesia :D

Oh, iya, di jalan menuju lokasi Candi Borobudur, kita juga bisa menjumpai Candi Mendut yang bisa langsung dilihat dari jalan. Katanya sih ada satu candi lagi di sekitar sana bernama Candi Pawon. Tapi, gue belum pernah liat. Nah, katanya lagi, ketiga candi tersebut berada dalam satu garis lurus dan ada dongeng juga tentang ketiganya yang beredar di masyarakat sekitar.

Di Borobudur, gue naik-naik sampat stupa terbesar yang ada di Arupadhatu. Hohoho. Sebelah bagian dari candi di tingkatan Rupadhatu kemarin sedang maintenance alias diperbaiki. Semoga cepat selesai. Sudah siang dan sudah capek karena naik tangga setinggi itu, gue pun kelaparan. Gue bareng keluarga makan siang masih di wilayah Candi Borobudur, lumayan cocok dengan lidah Sunda gue kok. Makanannya ga manis :D


Candi Prambanan

Seusai makan siang, kami melanjutkan perjalanan dari Borobudur menuju Prambanan. Di jalan cari masjid dulu buat sholat dan akhirnya sampai di Prambanan hampir masuk waktu Ashar. Sama seperti di Borobudur harga tiketnya, langsung beli dan masuk lokasi. Naik-naik lagi di Candi Prambanan, tapi sudah terlalu lelah di sana. Sayangnya juga, Candi Siwa yang merupakan candi utama di Prambanan yang paling besar sedang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung. Sepertinya sedang rusak karena gempa yang terjadi beberapa waktu lalu. Akhirnya, gue keliling-keliling di candi sekitarnya saja. Melihat arca yang terdapat di dalamnya dan tentu saja tidak lupa untuk foto-foto.

Candi Prambanan ini merupakan candi peninggalan Kerajaan Hindu dikenal juga dengan nama Candi Roro Jonggrang. Candi utamanya dikelilingi oleh candi-candi yang lebih kecil. Sayangnya candi-candi di sekitar candi tersebut sudah banyak yang tak berbentuk, hanya bersisa bebatuannya saja. Hal menarik dari candi ini adalah yang membangun memiliki nama yang sama dengan kakak gue, Rakai Pikatan. Kalau nama kakak gue, Rakay P juga, tapi P-nya dari Panhara. hehe.

Di kawasan wisata Candi Prambanan ini terdapat banyak candi-candi lainnya, contoh yang mungkin dikenal lagi adalah Candi Sewu. Memang candinya sebanyak seribu loh! *sedikit sotoy* *tapi kalo menurut pelajaran sejarah waktu sekolah kayaknya kesotoyan gue benar*. Gue keliling komplek Prambanan dan melihat candi-candi lain disekelilingnya menggunakan kereta mobil. Cukup  membayar Rp 5.000,00 sekali putaran. Kalau mau menikmatinya sambil bersepeda juga bisa, terdapat tempat penyewaan sepeda di sana. Sama juga seperti di Borobudur, saat gue ke sana sedang diadakan 'pembatikan wisatawan'. Hehe. Istilah yang gue buat sendiri.


Malioboro

Buat yang suka shopping, siapa sih yang ga kenal sama nama Malioboro? Tempat perbelanjaan baik wisatawan domestik maupun luar negeri yang satu ini memang sangat terkenal di Jogjakarta. Terletak di pusat kota dan hanya beberapa menit dari alun-alun Keraton. Di sana, dijual segala macam barang, terutama oleh-oleh khas Jogja, dari mulai souvenir dalam bentuk pernak-pernik seperti gantungan kunci, gelang, dan lainnya, ada juga batik seperti baju, kemeja, dress (daster juga banyak), sapu tangan, tas batik perca, ransel, sendal batik, banyak banget deh yang berbau batik, serta ada pula kaos-kaos khas Jogja beragam merk. Kalau dulu ada satu merk terkenal Dagadu, nah sekarang sudah mulai banyak para pembuat kaos lainnya yang tidak kalah bagus. Kalau kepingin belanja batik murah ada Pasar Beringharjo di Malioboro. Ilmu penting yang harus dimiliki adalah jago nawar :p

Sabtu, 01 September 2012

Isi Tinta Dapat Beasiswa, Mau?

Ink Cartridge Rusak

Ceritanya, kemarin saya pergi ke BEC karena ink cartridge printer saya bermasalah. Biasanya saya mengisi tinta sendiri, tinggal suntik cartridge, tinta pun terisi. That's simple. Nah, beberapa bulan yang lalu, entah kenapa ink cartridge saya rusak :(, saya pun baru sempat pergi ke BEC kemarin. Pergilah ke salah satu toko yang menjual printer dan tinta di sana. Langsung tanya, ini ink cartridge saya kenapa? Masih bagus kah? Atau harus ganti? Kemudian, saya sempat bertanya harga ink cartridge yang sama kalau harus ganti dan seharga Rp 140.000,00. Duarr. Mahal. Haha. Ga kaget sih, soalnya sebelum pergi ke BEC sempat tanya dulu ke Om Google dan harganya sekitar Rp 150.000,00.

Karena sayang banget, akhirnya minta dicek dulu aja cartridge-nya, setelah dibersihkan, penjaga toko bilang tidak ada masalah dengan cartridge saya, dan bertanya apakah mau sekalian diisi ulang? Saya bilang saja iya, toh, di kosan tinta printer saya sudah mau habis. Penjaga tokonya langsung ngisi cartridge-nya. Tanpa bertanya menggunakan merk apa, ternyata diisi dengan DataPrint. Sebenarnya, saya hampir tidak tau kualitas tinta printer merk lain, karena sejak saya punya printer pertama kali waktu SMP sampai printer saya yang ketiga sekarang, dari mulai ngisi tinta ditetes hingga disuntik, saya hampir selalu memakai DataPrint karena paling banyak beredar di pasaran. Keluar dari BEC, saya bisa bernafas lega karena tidak jadi mengeluarkan duit sebanyak yang dikira, hanya seharga tinta + Rp 5.000,00 sebagai upah pegawai toko refill tinta.


Kupon Undian dan Beasiswa DataPrint

Sesampainya di kampus, masih menunggu kelas, saya iseng melihat bon dan kotak tinta DataPrint. Ternyata, saya menemukan sebuah kupon di dalamnya. Kupon berwarna kuning bertuliskan 20Tahun DataPrint SEMARAK KEJUTAN HADIAH. Waaaah, ada kupon undiannya. Sempat terlintas, malas mengirim kupon via pos, tapi ternyata begitu dibalik, pendaftaran untuk kupon undian hanya melalui website DataPrint. Ya, sudah, saya langsung saja daftar. Sederhana toh? Hanya bermodalkan internet, tanpa perlu beranjak dari tempat duduk saya. Dibaca-baca lagi kuponnya ternyata, kupon tersebut bisa juga dipakai untuk beasiswa! Daftarnya pun online di beasiswa DataPrint. Tinggal buat essay dengan tema yang telah ditentukan. Beres. Sama sekali tidak membuang waktu. DataPrint memberikan beasiswa untuk 350 orang tiap periodenya, berkisar dari Rp 250.000,00 hingga Rp 1.000.000,00. Dengan proses yang sama sekali tidak merepotkan, tanpa perlu memikirkan urusan administratif yang biasanya ribet. Akhirnya, saya daftar juga :D. Untuk informasi lebih lanjut lihat saja websitenya di beasiswa DataPrint.

Jumat, 31 Agustus 2012

Time to Travel [Part 4]

Rencananya di postingan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang Keraton Ngayogyakarta dan Pantai Parangtritis. Saya menjelajahi keduanya di hari Jumat, 24 Agustus 2012. Sudah cukup banyak foto yang diambil menggunakan kamera handphone saya yang hanya 2MP. Padahal, rencana A adalah saya ingin berbagi cerita tentang wisata Indonesia khususnya Yogyakarta setiap hari sepanjang saya ada di Kota Pelajar tersebut dengan foto-foto yang saya telah ambil. Namun, semuanya hilang begitu saja. Mungkin tergulung ombak. Mungkin terkubur pasir pantai. Ya, saya kehilangan handphone (lagi).  Ini yang kedua kalinya dalam dua tahun terakhir. Terakhir kali saya kehilangan hape pada 26 Maret 2011 dan saya pun dibelikan hape baru 3 November tahun lalu. Sedihnya, bahkan belum genap 9 bulan hape saya sudah raib tak berbekas.


Ikhlaskan saja, mungkin di situ ada hak orang lain dan itu belum rezeki saya. Hal tersebut yang dikatakan oleh ibu saya. Entah karena saya yang sudah semakin terbiasa dengan kecerobohan saya yang berujung menghilangkan atau merusak barang, saya sama sekali tidak meneteskan air mata ketika hape saya hilang. Sedih? Pastinya. Tapi, apa lagi yang bisa saya perrbuat? Nothing.

Ya sudahlah. Daripada memikirkan hape yang hilang, lebih baik membicarakan liburannya. Tapi tanpa gambar sih, jadi kurang seru.

Keraton Nyayogyakarta

Sudah berkali-kali saya pergi ke Keraton ini. Mungkin juga karena ayah saya termasuk orang yang menyukai sejarah, kerajaan, keraton, dan budayanya. Ayah saya sempat tinggal di Yogyakarta, mungkin itu alasannya beliau ingin anak-anaknya kuliah di kota ini. Well, both of his son and daughter didn't make his wish come true.

Untuk masuk ke dalam keraton ini, dikenakan biaya yang cukup murah, Rp 5.000,00/orang ditambah Rp 1.000,00 untuk izin kamera. Harga yang sangat terjangkau. Banyak juga wisatawan asing yang datang ke keraton ini. Di sekeliling keraton terdapat dua buah alun-alun, alun-alun utara dan alun-alun selatan, yang masing-masing terdapat dua buah pohon beringin besar yang seperti membentuk gerbang di tengah alun-alun ini. Alun-alun utara terbilang lebih ramai dibanding yang selatan, banyak orang berjualan di sana. Mungkin, karena dekat dengan pintu masuk keraton juga.

Begitu masuk ke dalam Keraton terdapat beragam bangunan mewah kuno. Jalanan yang memisahkan bangunan-bangunan tersebut dikelilingi oleh pasir. Dipamerkan beragam peralatan mulai dari perabot rumah tangga seperti kursi, meja, medali yang diperoleh Sultan, bahkan ada juga peralatan makan, kereta, kain batik, dan juga foto-foto serta lukisan-lukisan. Masih banyak deh.

Di ruang pameran barang-barang milik Sri Sultan Hamengkubuwono IX, tepatnya di meja kerja beliau, saya melihat sebuah buku dengan judul 'Takhta untuk Rakyat'. Sempat sedikit merenung dan berpikir, apabila para petinggi negeri ini berpegang teguh pada frase tersebut, makmurlah negeri kita ini. Sayang, sepertinya mereka lebih banyak berpikir 'Tahta untuk Pribadi/Golongan'. No offense untuk siapapun. Entahlah. Mungkin saya masih sedikit idealis karena belum menjumpai dunia yang katanya terlalu abu-abu di luar sana.

Well, overall, it really worths to visit Keraton Ngayogyakarta.


Pantai Parangtritis

Pantai Selatan yang terkenal dengan urban legend Nyi Roro Kidul ini memiliki pemandangan pantai yang sangat indah. Saya ke sana sore hari, dengan tujuan menikmati sunset yang indah. Di pantai dengan ombak yang terbilang sedang tinggi dan saya yang tidak bisa berenang, pada akhirnya saya hanya duduk-duduk di pantai, melihat ombak yang berkejaran di pantai. Sesekali saya pergi mendekati ombak tersebut untuk merasakan terpaan ombak. Seru! Apalagi saat ombak yang masih terbilang kencang berasa menarik kaki kita yang menginjak pasir yang ikut terbawa ombak. Sepertinya hampir 9 tahun yang lalu terakhir saya pergi ke Parangtritis ini. Kalau tidak salah tepat satu tahun sebelum Tsunami di Aceh, yang membuat saya sedikit takut untuk petgi ke pantai, khususnya pantai luar Indonesia. Dan ternyata beberapa tahun setelah Tsunami di Aceh, memang giliran pantai-pantai Selatan Pulau Jawa yang terhantam musibah seperti Pangandaran dan Parangtritis. Alhamdulillah, pariwisata di kedua pantai tersebut sekarang sudah kembali seperti semula. Saya pun menikmati udara sejuk di pantai dan berjalan-jalan sedikit menyusuri pantai dengan menunggang kuda. Di sana juga, kita bisa naik andong ataupun kendaraan AT. I did take some photos, the beach, the sand, and the waves. Anddd, it's gone.

Malamnya, saya melihat berita di televisi, tentang orang yang hilang di Pantai Pelabuhan Ratu, lebih tepatnya ada 4 orang meninggal dan 3 masih hilang. Di situ saya masih bersyukur karena hanya hape saya yang hilang.

Jumat, 24 Agustus 2012

Time to Travel [Part 3]

Di perjalanan menuju Kota Yogyakarta, saya menyempatkan untuk mampir ke sebuah rumah makan ayam goreng yang cukup terkenal. Awalnya berencana untuk sarapan di rumah makan yang sama di Brebes, sayangnya belum buka. Akhirnya saya sarapan di KFC Tegal, makan pancakenya yang enak itu lagi.

Sekitar pukul 10, melewati daerah Pemalang ternyata di sana ada rumah makan itu juga. Tapi karena sudah terlanjur sarapan, kami memutuskan untuk makan siang di Pekalongan saja, di Mbok Berek juga.

Ayam di sini sebenarnya sama seperti ayam di Suharti. Ayam yang disajikan ayam kampung. Enak. Kremesnya gurih. Patut dicoba deh buat para pemudik pantura. Hehe.

Published with Blogger-droid v2.0.6

Rabu, 22 Agustus 2012

Time to Travel [Part 2]

Packing buat berlibur. Gue cuma bawa beberapa helai baju, celana pendek, dan jeans. Cukup. Ga perlu bawa barang banyak-banyak. Perlengkapan mandi belum gue siapin. Yang ga boleh ketinggalan itu, charger handphone, kabel data buat ngecharge di mobil, dan headset buat di sepanjang perjalanan. Novel juga gue bawa buat nemenin kalau sudah mulai suntuk. Persiapan pulsa buat berinternet ria *palingan baca komik sama social networking doang*. Cukup itu. Cukup. Ga perlu repot. Tinggal berangkat.

Time to Travel [Part 1]

Libur lebaran terakhir selama menjabat sebagai mahasiswa S1 *amiiin*. Nah, di liburan kali ini, gue berencana berlibur bersama keluarga. Acara jalan-jalan sebenarnya sudah dimulai sejak lebaran hari pertama, walaupun itu sebenarnya adalah acara silaturahim.

Seperti biasa, di hari pertama lebaran, gue sekeluarga pergi ke kuningan, tepatnya ke daerah Kalapa Gunung, daerah asalnya Papa. Di sana, nyekar dulu ke kuburan aki sama eni. Lanjut, berkunjung ke tempat familinya papa. Muter-muter di Kalapa Gunung. Sayang tidak sempat foto-foto di sana *lupa foto lebih tepatnya*. Seinget gue, waktu kecil tempat itu masih sawaaaaah semua. Kalau sekarang, sudah banyak rumah baru nan mewah juga yang dibangun di daerah itu. Bahkan, kalau mendengar cerita papa, beliau bilang dulunya daerah tersebut masih leuweung alias hutan dan kebon. Sepulangnya dari sana, mampir dulu deh di salah satu tempat makan bakso di Jalaksana *nyamnyam*. Ditambah oleh-oleh yang banyak banget dari Kalapa Gunung. Lengkap sudah hari ini dipenuhi dengan makan enak. Sesampainya di Cirebon, mampir ke rumah kakaknya mama, ternyata di sana sedang berkumpul saudara dari mama juga yang datang dari Jakarta dan Bekasi yang baru sampai Cirebon setelah terjebak macet. Ketemu sama sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan unyu gue yang langsung pada adu nangis entah kenapa. Haha.

Di hari kedua lebaran, gue cuma keliling-keliling ke beberapa rumah saudara yang ada di sekitar rumah. Ditempuh cukup dengan berjalan kaki. Siang harinya, cuma glantang-gluntung ga jelas di rumah, nonton TV, dan beres-beres rumah.

Hari ketiga lebaran, gue kembali pergi ke Kuningan. Kali ini, gue nyambangin daerah asal mama yaitu Nusaherang. Hmm. Jadi, di sana itu, terdapat tiga buah rumah yang berderetan yang isinya rumah adik-adik dari nenek gue. Kata mama, mbah itu anak ketiga, kakaknya yang pertama bernama Mbah Ijah yang kata mama tinggal di Sumatra, yang kedua Mbah Bihi, dan keduanya sudah meninggal jauh sebelum gue lahir. Mbah sendiri bernama Icoh, masih punya empat orang adik, yaitu Mbah Emah yang dulu tinggal di Klayan, Cirebon namun sudah meninggal juga, Mbah Entin yang tinggal di salah satu dari tiga rumah yang ada di Nusaherang, Aki Eno yang dulu tinggal di Depok, tapi sekarang sudah tinggal di Kuningan lagi, Mbah Rus yang meninggal beberapa tahun yang lalu, dan yang terakhir Mbah Uha. Kalau sudah ketemu di Nusaherang, gue udah ga paham lagi silsilah keluarganya bagaimana. Semakin banyak orang di keluarga besar gue yang gue ga kenal. Beberapa sih, masih gue inget minimal mukanya. Hehe. Kalau urusan nama, ya, gue memang sangat pelupa. Dari Nusaherang, beranjak ke rumah Aki Eno sampai Maghrib. Selepas Maghrib, pulang lagi deh ke Cirebon dan hampir terjebak macet. Perjalanan Kuningan-Cirebon yang biasanya paling lama 1 jam, ini makan waktu sampai 2 jam. Lewat pukul setengah 9, baru sampai di tengah kota Cirebon. Langsung cari makan malam, tapi menyusuri Jalan Pemuda, Cipto, dan Tentara Pelajar namun semua tempat makan penuh semua. Pantura oh pantura. Alhasil, gue ga dapet makanan apapun di jalan dan terpaksa makan mie rebus ramai-ramai di rumah :(

Lebaran keempat, gue beres-beres rumah lagi sebelum ditinggal pergi sampai minggu depan. Gue besok pagi bakal berangkat ke Jogjakarta. Yeah! Gue kangen main ke pantai dan diajakin Papa liburan ke sana *langsung joged-joged kesenengan*. Semoga ga kena macet karena gue bakal ngelawan arus balik lebaran. Tapi masih sedikit curiga bakal kena macet arus balik pas gue balik ke Cirebon nih. Ah, ya sudahlah. Bukan gue yang nyetir ini. Hahaha. Yang penting, semoga semuanya selamat sampai tujuan dan bersenang-senang selalu :p

Sepulangnya dari liburan, gue bakal langsung balik ke Bandung dan langsung kuliah. Jadi, lanjutan cerita berliburnya kalau sempat yaa. Haha. *siapa juga yang peduli sama cerita gue kan ya? lol*

Okeh, karena besok gue berangkat pagi-pagi bener, gue mau tidur sesegera mungkin. Minal aidin semuanyaaaaa :). Maaf lahir batin bila ada kata-kata yang salah di semua postingan gue. Hehehe.

Rabu, 15 Agustus 2012

Thinking More

Sometimes, people just need to be alone. I let myself to be alone when I was in anger. Well, maybe if I was a shape shifter and I could turn myself into some dangerous animals, no one would like to see me breaking all the things around me without my emotion controlled. I let myself be alone also when i am in sadness. It's just not good for anyone to know my sadness. I could just calm myself down better when I'm alone, when nothing bothers me, nothing bothers my mind that makes me think more clearly. My anger and sadness management.
You know you need someone else's opinion to give you some other points of view. But sometimes when we are not in a good mood, we are not trying to be open-minded. In my case, I could be a really open-minded person but some other times I could be a stubborn.
As a person who has thinking points much much bigger than feeling points in characteristics test, I think lots more than feels (hell yeah, I'm not good at feeling or sensing). I used to think too logically without considering anyone's feeling including mine. Being too logic is good until I experience some effects unwanted. When I was being too logic (and still am now), it's just good because you will not have any emotion about anything. In other way, we could just say you would feel nothing which I consider as a good part of it. So, I tried to feel and sense more but for me I don't think it suits. Then I got back to my-old-self and just think even more.
--just an old post in my brain with revision
Published with Blogger-droid v2.0.6

Jumat, 03 Agustus 2012

Citadels, Wale, Dago Pakar

Dalam dua minggu terakhir ini, gue pergi ke Dago Pakar 2 kali. Jum'at minggu lalu dan malam ini. Bersenang-senanglah selagi masih muda, kawan. Haha.

Rencana awalnya, hari ini gue cuma mau main berdua sama Gita. Temen gue yang satu itu baru pulang dari Balikpapan selepas kerja praktik di sana. Wew, dari rencana awal ketemu berdua doang dan jalan-jalan, eh malah berakhir ramai-ramai. Berhubung gue akhirnya ketemuan sama Gita di sekretariat 2 HMIF yang ternyata lagi ada teman-teman lain yang sedang berkumpul.

Gue di sekre dari sekitar pukul setengah 3. Gita juga datang abis Ashar. Nah, begitu dia datang, kita langsung ngobrol asik sendiri di luar, tepatnya di tangga depan sekre. Haha. Terus muncul Ical yang ikutan nimbrung, terus muncul Ali yang ikutan nimbrung juga, terus bermunculan yang lainnya satu per satu. Hahaahha. Terus akhirnya kita ngobrolin mau buka puasa di mana. Dari mulai ke sini sampai ke situ *ga deskriptif*. Sampai pada akhirnya kita memutuskan untuk ke Wale di Dago Pakar.

Di sana, kita main board game yang namanya Citadels. Ada yang pernah dengar? Game yang satu ini katanya asalnya dari Jerman. Permainan ini cukup seru dan bisa dimainkan beramai-ramai. Contohnya saja, tadi kita memainkannya bertujuh, Hehe.

Sumber:  http://edtec670.edublogs.org/2009/10/27/citadels/ 
Gue ga akan menjelaskan tentang cara bermainnya karena itu terlalu panjang. Intinya, game ini punya dua jenis kartu: karakter dan bangunan (district cards). Storylinenya gini, pada game ini semua pemain berada dalam sebuah kerajaan yang terbagi-bagi ke dalam suatu wilayah. Di sini sebenarnya kita mau memajukan kerajaan dengan melakukan pembangunan di wilayah yang kita pegang dengan menggunakan karakter yang kita mainkan. Terdapat 9 buah kartu karakter dengan abilitynya masing-masing (kalau kata Lio, ini udah ekstensi dari sebelumnya):
1. Assasin
Karakter ini memiliki ability untuk membunuh karakter lainnya dengan cara menyebutkan nama karakter yang ingin dibunuh sehingga karakter tersebut akan mati dan tidak boleh bermain pada turn-nya di round tersebut.
2. Thief
Karakter ini memiliki ability untuk mencuri uang dari karakter lainnya dengan cara menyebutkan nama karakter yang ingin dia curi. Pada saat gilirannya, pemain yang memegang karakter tersebut harus menyerahkan semua uang (gold coins) yang dimilikinya kepada Thief.
3. Magician
Karakter ini memiliki ability untuk menukar kartu yang ada di tangannya dengan kartu dari tangan pemain lain, dengan menyebutkan nama pemain bukan nama karakter. Atau bisa juga menukar kartu dengan kartu dari deck.
4. King
Karakter ini yang memegang crown dan menyebutkan urutan turn pemain. Urutannya sendiri selalu sama, dan keuntungan menjadi raja adalah pada turn berikutnya dia yang pertama kali memilih kartu karakter.
5. Bishop
Karakter ini memiliki ability, bangunan yang sudah dibangun tidak bisa dihancurkan oleh Warlord pada round tersebut.
6. Merchant
Karakter ini mendapat satu gold coin setiap turn-nya.
7. Architect
Karakter ini memiliki ability untuk melakukan pembangunan sekaligus 2 dalam 1 turn. Setelah itu, boleh memilih untuk mengambil 2 gold coins atau 3 buah kartu bangunan dari deck kemudian memilih dua diantaranya. Normalnya, seorang pemain hanya bisa membangun satu kali dalam 1 turn dan mengambil 2 buah kartu dari deck kemudian memilih 1 saja.
8. Warlord
Karakter ini memiliki kemampuan untuk menghancurkan bangunan pemain lain dengan cara membayar seharga membangunnya dikurangi satu koin.
9. Queen
Pemain dengan karakter ini berhak memperoleh 3 koin apabila dia duduk tepat di sebelah pemain yang menjadi King.

Semalam, gue, Gita, Lio, Ali, Rido, Algo, dan Ical memainkan game ini sampai 'diusir' sama karyawan Wale. Haha. Sayangnya, game yang dimainkan belum selesai. Setelah dihitung-hitung kekayaannya, si Gita yang menang. Padahal dia baru pertama kali main. She's a really lucky girl. Dia selalu beruntung dalam hal apapun sepertinya :)

Benar kata Lio sih, sebenarnya permainan ini membuat kita menjadi lebih pintar untuk membaca orang, beruntunglah kalau kita mengenal karakter lawan which he's good at it unlike me, lol. Pokoknya board game yang satu ini terlalu seru untuk dimainkan. Try it out! Pertama kali gue main board game ini di Kummara. Ini kali kedua main sih, tapi tetep aja ga pernah inget rules-nya. Hehehehe.

Kamis, 02 Agustus 2012

Well, I (We) Never Grew Up

Tengah malam tadi, iseng buka satu jejaring sosial dan menemukan status salah seorang teman yang berisikan ucapan terima kasih untuk Digimon :)

Kalau kata 9gag, 90's kids itu anak-anak yang hidup paling bahagia. Gue sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut. Gue sebutin alasannya, pertama karena gue tergolong 90's kid dan gue memang bahagia. Cukup kan satu alasan? Masih kurang puas? Well, 90's kids hidup di jaman analog dan juga jaman digital (termasuk jaman peralihan di antara keduanya). Sebagai anak-anak yang masih berada pada jaman analog, gue masih merasakan kesenangan bermain di luar rumah bersama teman-teman sebaya, lari-larian di bawah terik matahari, manjat pohon, main sepeda, otopet, cari ikan, main rumah-rumahan dari tanah, banyak permainan tradisional seperti petak umpet, bentengan, temprangan (ini namanya bener ga ya?), gobak sodor, kum-kuman, lompat tali, barbie yang digunting-gunting (ini gue nemu lagi, waktu ponakan gue beli di kantor kecamatan deket rumah), masak-masakan sampai masak beneran, bekel, congklak, main board game kayak ular tangga sama monopoli dari mulai monopoli indonesia sampai internasional (dan sekarang sudah terlalu banyak versi monopoli), game boy yang layarnya masih monokrom, tamagochi, banyak bangeeeet dah. Sedangkan sebagai anak yang berada pada jaman peralihan menuju era digital, gue sempat main SEGA dan NINTENDO, sebelum Play Station berjaya, nyicipin PS1 dan PS2, tapi jujur gue belum pernah main PS3. Gue emang ga pernah boleh beli video game, tapi main ke rumah teman kan masih boleh. Hehe. Mulai jarang main keluar rumah. Haha. Era digital pun dimulai sudah sejak saat itu, sampai pertama kali mama sama papa punya handphone waktu SD. Sebelumnya ngerasain juga memakai telepon umum koin di sekolahan buat minta jemput. Biasanya ngantri panjaaaang kalo pulang sekolah, terus sekali nelpon cuma 100 perak. Gue inget banget tuh, dulu sempat ada kartu voucher gitu buat nelpon, jadi ga usah pake koin tinggal masukin kode-kode gitu.

Masih minta alasan lain? Acara TV! Surganya acara TV untuk anak-anak mungkin dialami oleh generasi gue, terutama hari Minggu. Dari Subuh, gue udah bangun buat mantengin TV. Kalau ga salah, dulu mulai jam 5 pagi itu udah ada Club Disney Indonesia dan sampai jam 12 siang, tapi lama-lama menyusut sampai jam 10 doang. Dan sekarang, udah ga tau lagi deh, kartun kesayangan itu masih ada atau nggak. Ini nih kartun yang dulu suka ditontonin: Sailormoon, Gundam, Let's And Go, Hamtaro, Chibi Maruko Chan, Ksatria Baja Hitam, Cardcaptor Sakura, UFO Baby, Do Re Mi, Pokemon, Digimon, Doraemon, Detektif Conan, Crayon Sinchan, Samurai X, Inuyasha, Dragon Ball, Power Ranger, Mojacko, Ninja Hatori, Ninja Boy, Dr. Slump, P-Man, Ultraman, Anpanman, ada si Unyil juga, dan masiiiiiiiiiiiih banyak lagi. Hahaha.

Menyenangkan bukan hidup sebagai 90's kids?

Minggu, 29 Juli 2012

Sweeping di Bulan Ramadhan

Dari awal Ramadhan ini, sudah berkali-kali mendengar kata sweeping. Kalau di hari biasa, biasanya terdengar beritatentang  tempat-tempat maksiat di-sweeping, nah kali ini yang di-sweeping itu tempat makan. Bingung ga sih?

Mayoritas penduduk Indonesia memang beragama Islam dan suasana di bulan Ramadhan pun memang biasanya berbeda bila dibandingkan dengan bulan lainnya. Namun, Indonesia tetap bukan negara Islam. Yang tidak saya paham adalah mengapa di bulan Ramadhan, warung-warung di pinggir jalan atau beberapa rumah makan harus tutup? Padahal masih banyak juga kan masyarakat kita yang tidak berpuasa? Saya orang Islam. Saya menjalani puasa seperti umat muslim lainnya. Tapi, saya tetap merasa kalau sweeping seperti itu tidak pantas untuk dilakukan. Alasan pertama karena Indonesia bukan negara Islam seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Kedua, saya masih belum mengerti apa tujuan dilakukannya sweeping tersebut. Sebagai, umat muslim yang sedang berpuasa pun saya sama sekali tidak keberatan kalau ada warung atau rumah makan yang buka di siang hari. Toh, tujuan dari puasa sendiri kan menahan lapar dan dahaga, serta menahan diri dari segala hal yang tidak baik. Kalau semua tempat makan tutup mah, jadinya menahan lapar karena memang tidak ada yang jualan. Hehe.

Terus kenapa mesti sampai dilakukan sweeping? Apakah untuk menghargai orang yang sedang berpuasa? Kalau begitu, sebagai orang yang sedang berpuasa juga kita harus menghormati orang yang tidak berpuasa kan? Kalau kita mau dihargai dan dihormati, hargailah dan hormatilah orang lain terlebih dahulu. Di sini saya tidak menjelek-jelekan siapapun, saya juga tidak mau menjelek-jelekan saudara-saudara seagama saya. Mungkin caranya saja yang tidak tepat untuk dilakukan. Karena menurut saya, sweeping tempat makan itu sangatlah berlebihan. Yaaa, kalau yang di-sweeping itu tempat maksiat mah, kayaknya semua juga setuju-setuju saja. Itu semua hanya pandangan dan pendapat saya loh. No offense untuk siapapun.

Sabtu, 28 Juli 2012

Ramen dan Bukit Bintang

Berawal dari rencana Chita yang ngajak gue sama Rey main selepas kumpul d**m*n, setidaknya kita bertiga buka puasa bareng kek dimana.

Di hari yang dijanjikan.

Pagi.
Gue sampe kantor tiba-tiba inget rencana tersebut. Sms-lah gue kepada yang punya rencana a.k.a Chita.
Gue: chitaa. ntar sore jadi ga?
Chita: Jadi yukkk

Lanjut obrolan mengarah ke tempat makan buat buka. Lalu, gue nanya ke Hapsari, 'Eh, Hap. Tempat makan yang enak buat buka bareng dimana ya kira-kira?'. Perbincangan pun ditutup dengan ide di tempat ramen. Gue belum pernah nyoba makan di situ. Minggu lalu, gue sama Hapsari sempat mau makan siang di sana, tapi ternyata warung ramennya buka dari jam 5 sore. Batal deh. Gue mengajukan tempat ramen itu. Akhirnya kita jadi pergi makan dan rencananya ngumpul di kampus jam setengah 6 sore, berhubung Chita kape sampe jam 5.

Sore.
Gue pulang kantor hampir jam setengah 5. Langsung deh sms Reynald yang memang udah nganggur karena kapenya udah beres. Gue males kalo harus pulang dulu ke kosan. Jadi, memutuskan untuk langsung cabut ke kampus aja dan nunggu di sekre 1 dan ngajak Rey ketemu jam 5an dengan asumsi perjalanan kantor-kampus memakan waktu kurang lebih setengah jam, hm, kurang sih. Ternyata perjalanan dari kantor ke kampus sore tadi terasa sangat cepat. Padahal kayaknya si Hasby ga ngebut-ngebut amat juga. Gue sms Rey waktu masih di ITC Kebon Kalapa jam 4.25 dan gue udah turun di depan kampus jam 4.39. Kurang dari 15 menit. Luar biasa kan? -padahal sebenernya biasa aja-

Sesampainya di sekre 1, gue langsung sholat dulu. Ga lama kemudian, Rey pun datang sambil bawa koran. Nunggu deh di depan sekre 1 dan duduk di kursi baru berwarna hijau muda, yang katanya baru sore ini diletakkan di situ. Mungkin sebagai pengganti meja depan sekre yang ilang entah kemana. Haha. Jam 5an, Chita sms udah di jalan. Tapiiiii, maceeeeet! Bandung, sore hari, bulan Ramadhan, macet, dan weekend. Wajar. Haha.

Akhirnya kita nunggu Maghrib dulu deh, beruntung ada air mineral yang dijual di sekre 1. Reynald juga bawa jamur crispy lagi. Lumayan buat ganjel perut pas buka puasa. Begitu adzan Maghrib berkumandang, langsung deh gue buka puasa dan sholat Maghrib di mushola samping sekre. Sepiiiii. Beres sholat, ga lama kemudian masuklah sms Chita yang bilang dia udah nyampe Dago. Gue sama Rey pun langsung cabut ke gerbang depan. Ketemu Chita deh dengan mobil March hitamnya.

Malam.
Kita langsung cabut ke tempat makan yang dituju. Letaknya di belakang Gedung Sate. Not bad lah. Tapi masih so-so buat gue. Untung ga nyasar ke sana. Soalnya penunjuk jalannya gue, tapi gue juga baru satu kali ke sana. Ngomong-ngomong soal nyasar. Gue hampir ngebuat anak orang, sebut saja namanya Ali, NYASAR! Haha. Dia nyusul karena buka puasa dulu di kosan. Gue bukan orang yang bisa menjelaskan suatu alamat dengan baik. Dan alhasil si Ali ini beneran hampir tersesat. Hahaha. Tapi, bersyukur, akhirnya dia menemukan tempatnya juga #gajadinyasar.

Kami makan dengan ramen dan udon. Beres makan, kita masih duduk-duduk di sana ditemani dengan TV yang memutar salah satu acara Talkshow yang dibawakan oleh pesulap itu. Yang lagi hot diomongin, ada artis yang operasi hidung. Ga peduli juga sebenernya, gue ga kenal juga sama tuh artis, terus emang ada yang peduli mereka mau ngapain. Hahaha. Sambil makan, nonton TV, dan berbincang-bincang. Life. Socialize.

Jam 8pm, kami berempat keluar dari warung ramen tersebut dan sepertinya niat awalnya entah ga jelas entah pulang ke kosan masing-masing. Kalau Ali sih langsung pulang ke kosan, nah sisanya tinggal bertiga lagi, kita ngisi bensin dulu di Dipati Ukur sambil mikirin mau kemana selanjutnya. Nah, ini nih. Randomizer-nya lagi pada aktif kayaknya. Keluar dari pom bensin, si Chita bilang kenapa ga ngajak Ali. Kata Chita, Ali ga suka banget kalo harus berdiam diri di kosan karena nganggur *padahal cuma malam itu doang nganggurnya* -__-. Diajakin sekali buat cabut keluar, orangnya langsung mau. Hahahaha. Terus kita putar balik ke arah Tubagus deh buat ngejemput Ali.

Nungguin Ali keluar kosan, sambil sekongkol biar Ali yang harus nentuin next destination buat kongkow-kongkow. Dengan alasan yang sebelumnya digunakan ke gue, biar gue yang nentui tempat makan: Chita kan udah bawa mobil, Reynald kan udah nyetir, Raches kan udah nentuin tempat makan, sekarang giliran Ali yang nentuin tempat main.

Setelah nunggu beberapa saat, Ali pun keluar dari kosannya, yang ternyata ada lapangan basketnya *literally segede lapangan basket* dan bikin gue sedikit ngiri. Haha. Dia nongol sambil bawa kameranya yang padahal masih ga tau kita mau pergi kemana tapi itu kamera udah dibawa-bawa aja. Begitu masuk mobil, Ali pun langsung digertak dengan pertanyaan tadi. Dan jawabannya adalaaaah Bukit Bintang! Wew!

Langsung deh ngegeloyor tuh mobil ke Dago Pakar, terus sempat nyasar. Haha. Ga ada yang tau jalan. Ternyata satu-satunya orang yang pernah ke sana cuma gue, tapi gue ga inget juga jalannya. Gue ke sana juga udah tiga tahun yang lalu di saat gue masih imut-imut digigit semut masih pake seragam putih abu *sekarang udah kayak zombie*. Malem pula ke sananya, tambah ga mungkin lagi gue apal jalan. Haha.

Gue, Chita, Reynald menikmati pemandangan malam dari atas Dago situ. Kalo Ali, lagi sibuk sendiri sama kameranya. Mainin lampu mobil Chita juga. Yah, ga apa-apa lah, selama kita bertiga masih jadi objek fotonya #bancikamera. Hahahaha.

Langit malam. Udara malam. Pemandangan malam.
Sekitar pukul 10, Ali udah minta pulang aja. Akhirnya kita pun pulang ke kosan masing-masing dengan membawa lelah yang sudah tak terasa lagi. <---- boong banget, gue udah sampe jadi pilek parah dan bindeng tiba-tiba gitu

Annnndddd I slept :)

Senin, 23 Juli 2012

Ramadhan

Ramadhan keempat sejak saya resmi menyandang status sebagai mahasiswa. Bulan suci umat Islam yang selalu dinantikan oleh setiap muslim. Bulan penuh berkah, bulan penuh curahan nikmat dan rahmat Allah. Di tiga tahun terakhir, saya hampir tidak pernah menghabiskan bulan Ramadhan bersama keluarga. Alasannya tentu saja karena saya kuliah. Paling hanya satu minggu terakhir Ramadhan atau kurang saya bisa menikmati indahnya Ramadhan bersama keluarga.

Tiga tahun terakhir.

Ramadhan pertama sempat membuat saya sedih karena untuk pertama kalinya tidak menjalankan ibadah puasa bersama orang tua. Tidak pergi ke masjid untuk taraweh bersama mereka. Situasi kampus yang memang cenderung agamis namun tetap saja terkadang saya lupa kalau sedang bulan Ramadhan karena segudang aktivitas dan perkuliahan yang berjalan tanpa peduli dengan waktu puasa. Berbeda dengan saat sekolah yang biasanya masuk jadi lebih siang karena toleransi untuk yang sahur dan pulang pun lebih cepat. Di kuliah? Kita jalani seperti biasa. Toh, ini bukan kampus Islam, jadi wajar. Malah saya sedikit senang karena puasa jadi tidak lebih terasa sebenarnya. Apalagi kampus saya itu benar-benar Bhinneka Tunggal Ika. Haha. Yang membuat saya senang juga karena di kampus ini, para mahasiswanya bisa saling menghargai perbedaan, baik suku, bahasa, ras, agama, sampai hal kecil seperti berpendapat. Menyenangkan memang belajar dan tumbuh di kampus ini. Namun, tetap ada sayangnya karena di saat bulan Ramadhan, saya tidak lagi merasakan 'hawa' bulan suci ini.

Ramadhan kedua saya jalani dengan lebih 'legowo'. Sudah tahu situasi dan kondisi. Bedanya, kalau di tahun pertama saya masih tinggal di rumah kakak, jadi makan sahur terjamin, buka puasa juga terjaminlah, masih bisa masak sendiri di rumah *meski cuma telor, wong ga bisa masak*. Nah, di tahun kedua ini, saya sudah ngekos jadi harus cari makan sendiri. Untungnya, ada bibi kosan yang rajin bawain makanan untuk sahur sama ngebangunin kita. Walaupun terkadang saya ketiduran lagi setelah menerima makanan tersebut, seenggaknya saya sudah tidak perlu repot-repot cari makan keluar untuk sahur. Terkadang lagi, kalau saya lupa pesan makan untuk sahur ke bibi, yaa, ga sahur. Haha. Nasib anak kosan. Satu hal lagi nih, sebagai kaum hawa *eya, bahasanya* pasti ada saat dimana tidak boleh berpuasa. Biasanya, sepulang kuliah siang, saya ngansos ke Gelap Nyawang buat cari makan. Terkadang ikutan puasa juga seharian gara-gara ngerasa ga enak ngeliat yang lain puasa, tapi paginya tetep 'ngebatalin' dulu di kosan,

Ramadhan ketiga mungkin sudah terlalu biasa tanpa kehadiran orang tua ataupun sanak saudara. Jadi, saya jalankan sebaik mungkin. Bedanya, saya udah punya teman yang bisa diajak makan siang. Punya banyak teman beda agama yang bisa diajak makan bareng :). Di sini nih letak enaknya bisa saling menghargai. Terus jadi inget, saya punya satu teman nonis yang sempat heran dan bingung kenapa saya mau ikutan makan siang padahal lagi bulan puasa. Kontan aja, orang-orang yang ngerti langsung pada ketawa. Tapi, ya kali mau dijelasin dengan frontal alasannya. Haha. Di Ramadhan ketiga ini juga saya lagi banyak-banyaknya diterpa dengan kuliah yang cukup berat yang alhamdulillah sudah dilalui dengan selamat walaupun sempat berdahrah-darah. *lebay*

Tahun keempat.

Semoga menjadi tahun terakhir saya menyandang gelar mahasiswa S1. Amin. Di Ramadhan kali ini, yang telah memasuki hari keempat, saya merasakan puasa pertama bersama keluarga :D. Seharusnya saya kerja praktek, tapi jam kerja dan waktu ngantor yang sungguh fleksibel sangat menguntungkan. Hehe. Alhamdulillah bisa menikmati Ramadhan bersama keluarga, meskipun hanya dua setengah hari pertama. Insya Allah, selesainya saya kerja praktek minggu depan, saya bisa terus puasa bersama keluarga di kampung halaman :). Berhubung ini masih libur dari perkuliahan juga yang baru akan mulai setelah lebaran. Ada yang bakal bikin sedih sih kayaknya. Selama bulan puasa ini, ga ada temen buka bareng di Bandung. Temen kuliah lagi pada kerja praktek dimana-mana. Temen SMA, ya kaliiii -____-. Haha. Tapi jalani dengan enjoy aja. Yang penting kan puasanya. Hmm.

Semoga berkah yang ada di bulan suci Ramadhan ini 'nyangkut' ke tiap-tiap diri kita dan menjadi lebih baik setelahnya. Amin.

Choose!

Barusan aja, gue buka milis. Jarang banget gue bukain milis kalo ga lagi nungguin email. Email paling atas dari dosen wali gue ke milis IF09. Judulnya tentang jadwal perwalian. Gue buka dan isinya menerangkan tentang pilihan mata kuliah semester depan dan jadwal perwalian yang akan dilaksanakan setelah perkuliahan dimulai. Ya, intinya itu, cuma ada satu kalimat yang bikin gue langsung galau : "Harap dipikirkan dengan baik pengambilan kuliah ini, sesuai dengan topik TA yang diminati." topik ta topik TA TOPIK TA! Ugh.

Gue akan menginjak semester 7 akhir Agustus ini dan gue sama sekali belum punya bayangan apa yang harus gue jadikan topik tugas akhir gue. Beda sama temen-temen gue yang kebanyakan udah tau mereka mau apa.

Mau apa? Mungkin itu pertanyaan fundamental yang harus gue jawab untuk menentukan topik TA gue. Dari dulu, gue emang ga pernah tau gue maunya apa. Kalau gue sendiri ga tau mau apa, gimana gue bisa ngelanjutin perjalanan gue? Graor. Satu pertanyaan lagi yang bisa menunjukkan pilihan buat TA gue mungkin adalah gue suka apa? Gue suka ngapain? Kata orang kalau berawal dari kesenangan segalanya akan terasa 'ringan'. Tapi sayangnya, sama seperti pertanyaan pertama. Gue juga ga tau gue suka apa. Bingung kan? C'mon, girl! You've gotta think! Think about what you want and what you love most. Make your decision!


*seseorang yang berharap agar segera mendapat ide untuk topik TA*

Minggu, 01 Juli 2012

A Good Cook

It comes suddenly in my list of wishes that I wanna be a good cook at least for myself. Hehe. In fact, I can't cook anything but instant noodles :p. I love eating any kind of food except the veggie. I love eating delicious food and it usually is pricey :(. I've been wondering if I could cook those yummy food by myself so I could just eat them anytime I want to. Well, I think that'll always be only a wish cause no chance I can cook. Hahahaha.

Jumat, 29 Juni 2012

Love Both

Just a minute ago, I scrolled down on 9gag and I found this picture there.


I love sunset. Look at the color of it! It's beautiful, isn't it? And the basket? Well, I love basketball too. This picture just combines the two things I love :)

Malam Kamis di BasDat

Judulnya.. Hmmm.. Sedikit seram.. Hahahaha..

Ga penting. Jadi, tadi gue baru pulang dari 'kumpul-kumpul' bersama segelintir orang di selasar Basis Data. Topik yang diangkat adalah kaderisasi. Ya, kaderisasi. Bukan gue banget emang. Haha. Ini gue juga dateng karena sekalian keluar dan diajak penanggung jawab angkatan untuk kaderisasi kali ini. Gue ga akan cerita tentang apa yang kami bicarakan tadi sekarang dengan alasan belum waktunya semua itu dibeberkan dan di sini sepertinya bukan tempat yang tepat. Yang mau gue tulis sekarang cuma secuil pikiran yang berkecamuk di kepala ini. Apa sih kaderisasi? Gue bukan orang yang pantas buat ngebahas hal ini. Gue juga masih ngerasa bukan kader yang baik di organisasi gue. Gue cuma orang yang berusaha menjalankan tugas atau kewajiban dimana gue berada yang dalam hal ini adalah organisasi. Tapi, di saat gue bisa lepas dari tugas atau kewajiban itu gue cukup menikmati kegabutan gue kok. Hehehe.

Nah, balik lagi nih ke pertanyaan tadi. Apa itu kaderisasi? Kaderisasi itu pengaderan. Pengaderan sendiri menurut kamus berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Apa itu kader? Yaitu orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dsb. Dalam kasus ini, organisasi dan lebih mengerucut lagi himpunan mahasiswa jurusan. Menurut gue juga kaderisasi itu proses pembelajaran dan proses ini akan dilakukan seumur hidup, meskipun dengan nama yang berbeda. Tidak selalu bernama kaderisasi.

Jelas bukan? Proses mendidik! Menurunkan ilmu kepada calon kader nantinya. Bukan ajang balas dendam seperti yang sering kita dengar di salah satu perguruan tinggi sana. Bukan ajang menyakiti anak orang secara fisik! Tapi MENDIDIK! Itu kaderisasi. Bukan ajang gaya-gayaan agar terlihat 'cool' sebagai satuan keamanan atau terlihat selalu 'ceria dan bersemangat' sebagai motivator atau terlihat 'tegas dan berwibawa' sebagai seorang danlap yang lantang berbicara di depan calon kader. Itu cuma sebagian kecil yang jadi efek samping pengkader, namun mesti diingat lagi bahwa tujuan utama kaderisasi adalah mendidik yaitu penurunan ilmu atau sharing knowledge kepada calon kader ini. Terkadang mendidik perlu cara yang keras agar ilmu yang diturunkan diserap dengan baik, tapi tidak selamanya itu berjalan efektif. Selama masih bisa diturunkan dengan cara-cara yang lebih manusiawi, tanpa adanya let's say agitasi atau semacamnya, kenapa tidak? Tegas itu dibutuhkan tapi tidak selalu harus keras. Saya bilang tidak selalu loh, jadi sekali-kali keras juga bahkan diperlukan apalagi untuk para calon kader yang terkadang mungkin masih duduk diam di comfort zone-nya sehingga perlu sedikit 'tamparan'. Tapi, keras yang saya maksud di sini bukan keras secara fisik ya dan bukan juga cuma adu keras suara. Seorang pengkader itu seharusnya sudah tahu dengan baik apa yang ingin ditanamkan kepada yang dikader. Seorang pengkader seharusnya bisa mencerminkan nilai-nilai yang ada dalam organisasinya sehinggal nilai-nilai serta ilmu-ilmu tersebut bisa diturunkan dengan baik ke generasi setelahnya.

Gue bukan anak PSDA atau MSDM atau HRD atau apapun itu yang berbau anggota. Gue bukan orang yang peduli dengan kaderisasi juga. Tapi, alangkah indahnya apabila kaderisasi itu bisa benar-benar menghasilkan kader-kader terbaik untuk suatu organisasi dan kembali ke tujuan awal kaderisasi itu, untuk menurunkan ilmu dan nilai-nilai yang ada dalam suatu organisasi.

Selamat mengikuti kaderisasi untuk para mahasiswa baru, selamat mengikuti apalah itu namanya osjur untuk yang akan bergabung dengan himpunan, selamat mengikuti kaderisasi terbaik yang ada di keluarga kita, selamat mengikuti kaderisasi akademis, selamat untuk para calon kader terbaik bangsa wahai pemuda pemudi Indonesia :) <-- sambil diputar lagu Bangun Pemudi Pemuda #lebay

Kamis, 28 Juni 2012

My Father's Day

Hi, Pa! I just wanna say Happy Birthday and I love you :)
I'm grateful to be your daughter.
Nothing more I can say cause nothing I could give to you but my wish so you will always have a happy life ever after.

Senin, 25 Juni 2012

Masuk ITB And 3 Years After :)

"Ih, wow! Ga kerasa" adalah frase yang paling sering diungkapkan oleh banyak orang. Gue dulu cuma anak kecil cupu, remaja tanggung yang sok dewasa. Cuma seorang anak daerah yang pengen mengenyam pendidikan tinggi dan terdampar di kampus Ganesha yang luar biasa ini. Emm, sepertinya salah kalau gue bilang terdampar karena gue ke sini setelah mendayung perahu sekencang yang gue bisa saat itu. Ya, dulu ITB itu salah satu mimpi besar gue yang bikin gue 'tobat' di semester akhir gue waktu SMA. Haha. Kayaknya gue udah pernah cerita tentang hal ini sebelumnya. Nothing more I'll say.

Di ITB, begitu masuk, gue dan teman-teman 2009 lainnya yang masih berseragam SMA dan pertama kali mengenakan jas almamater berwarna, hmm, let's say biru kehijau-hijauan atau hijau kebiru-biruan ?, haha, apapun itu, kami disambut dengan salam hangat kampus Ganesha. Jiwa-jiwa tenang kami mungkin bergetar mendengar teriakan kencang salam tersebut. Di Sabuga sana juga kami diwariskan salam tersebut. Salam yang memiliki arti luar biasa. Didendangkan pula lagu-lagu kampus yang mungkin membuat bulu kuduk berdiri ketika dinyanyikan dengan khidmat atau mungkin karena AC di dalam ruang Sabuga yang terlalu dingin :D. Just kidding.

Tahun ini, akan memasuki tahun keempat gue di kampus yang insya Allah menjadi tahun terakhir gue memegang titel sebagai mahasiswa S1. Amin. Tapi, bayangan gue di Sabuga saat itu, hari-hari pertama gue menginjakkan kaki di kampus ini terasa lagi karena melihat kembali jas almamater a.k.a jamal yang bertebaran di kampus. Sejujurnya beberapa minggu yang lalu, gue sempat kehilangan jamal gue. Mm, ga bisa dibilang ilang juga sih, gue lupa naro jamal itu dimana. Kok lupa sih? Itu jamal loh? Gue bisa diamuk massa yang pengen banget masuk ITB nih kayaknya. Ya, namanya lupa, mau gimana lagi dong? Tenang, beberapa hari yang lalu udah ketemu kok. Emang kenapa sampe ilang? Ga bangga pake jamal ITB padahal kan ada lambang gajahnya di dada kiri? At one moment, I'm proud, way too proud. But for another moment, I'm gonna say, "Not that proud" <-- dengan meme Obama dan sejujurnya jamal gue kegedean -_____-. Dulu, gue pernah dikasih tau sama senior gue, di saat gue bangga karena gue dapet jas itu. Jas itu bukan cuma kebanggaan tapi juga tanggung jawab. Sempat gue tertegun sebentar. Tapi, gue masih terlalu egois dan cuek saat itu. Well, sampe sekarang sih. Hal itu sampai sekarang bikin gue bangga tapi juga malu kalo pake atribut apapun yang berbau ITB. Padahal ya, dulu pas gue mau masuk ITB nih, gantungan kunci gue ITB, terus gue sering pake pin ITB juga. Hahaha. Udah sih itu doang.

Ketika nomor registrasi peserta USM Terpusat gue dinyatakan diterima, di STEI pula, yang dulu katanya passing grade tertinggi, mungkin satu mimpi gue sudah terwujud. Kalau tidak salah pengumuman itu tanggal 12 Juni 2009. Tapi sayangnya, gue sempat menghela nafas terlalu panjang. I was late to walk on the right track. Nyesel? A little, but it was my mistake and i need to mend it :). Gue terlalu lamban melangkah dan sepertinya di tahun terakhir ini gue harus bisa lari kenceng, ga kayak kuda, tapi kayak cheetah <-- dari tadi analoginya lebay ya?

Di saat yang lain sudah berkontribusi, berkarya besar, menapaki karirnya, atau meraih mimpi-mimpi besar mereka, gue masih tidur-tiduran di kamar kosan and just doing nothing. Waktu gue STEI, gue ikutan PLO dengan hanya memenuhi syarat lulus, bahkan kuliah tpb juga gitu, haha. Begitu penjurusan, dagdigdug, super tegang, ga tau deh gue masuk jurusan apa yang penting gue ga kelempar ke Power *itu do'a gue*. Ga bermaksud gimana sama power loh, yang ada gue takut masuk power karena terlalu imba, out of my reach.    Nah, kalo yang ini mun teu hilap mah tanggal 7 Juni 2010, penjurusan, gue buka ol.akademik.itb.ac.id <-- ini situs paling mengerikan buat anak ITB sepertinya, lol. Jreng jreng jreng! Keluar lah tulisan yang bilang kalo gue masuk Teknik Informatika. Okay! Life goes on! That was my first choice. Alhamdulillah, sejauh ini Allah masih memberikan hal yang gue inginkan dan semoga yang terbaik juga buat gue. Dari mulai masuk ITB dan STEI yang merupakan pilihan pertama gue, masuk IF yang juga pilihan pertama gue. Alhamdulillah. Cuma ucapan syukur yang bisa gue lakukan :). Nilai gue emang ancur-ancuran waktu TPB, ga kayak temen-temen gue yang terlalu jenius. Nilai gue pas-pasan dah. Haha. Masa setaun gue di TPB, gue sempet ikutan seleksi masuk dua unit pendidikan di kampus. Lolos. Tapi, gue ga bisa berkontribusi lebih banyak lagi di sana for some reasons. I mean gue gabut. Ya, gue gabut! Huft. Sorry. Padahal terkadang gue mau main ke unit-unit itu lagi, pengen menyalurkan hobi lama dan mendapatkan ilmu baru, pengen berkontribusi lagi. But I could just say sorry and regret now.

Selesai masa satu tahun gue di TPB dengan nilai gue yang ancur-ancuran dan kegabutan gue di unit. Gue ikut diklat OSKM sama ikutan SPARTA HMIF. Pengalaman berharga? Sangat berharga. Di OSKM, mata gue yang biasanya dipake merem doang jadi kebuka ngeliat kondisi kampus dan kondisi riil di masyarakat. Di SPARTA HMIF, gue dapet banyak teman baru, teman seangkatan yang selama 2 tahun di jurusan ini bareng-bareng terus. Susah senang menghadapi tugas di Informatika yang luar biasa. Infantri. Angkatan gue informatika 2009. Bangga di Infantri? Ga ah. Biasa aja. Kita deket karena situasi dan kondisi yang maksa kita untuk dekat. Gue baru bangga kalau di saat kita dipisahkan oleh situasi dan kondisi nantinya, di saat kita semua udah lulus bareng-bareng, entah dimana kita akan melanjutkan hidup kita, kita tetap ingat satu sama lain, tetap menjaga komunikasi kita, baru deh gue bakal bilang, gue bangga sepenuhnya sama kalian semua wahai Infantri. Sukses semua? Pastinya. Insya Allah. Amin.

Ngomong-ngomong tugas di informatika nih, gue sama beberapa teman yang baru keluar dari kelas Perilaku Organisasi pernah bercanda kalau Labtek V (tempat bernaungnya anak informatika) itu adalah Azkaban dengan dosen-dosennya jadi Dementor dan tugas yang melimpah di informatika sebagai Dementor's Kiss. Itu semua bikin anak-anak Labtek V hidupnya kayak Zombie. Hahaha. Mm, dosennya diibaratkan sebagai Dementor tapi sebenarnya ga ada yang segitu menyeramkannya kok, malahan baik-baik dan dosen-dosen terpilih yang sungguh luar biasa yang alhamdulillah lagi gue berkesempatan untuk dididik oleh beliau-beliau ini :)

Lanjut, masuk tingkat 2, gue baru merasakan TPB a.k.a Tahap Paling Bahagia di ITB ini memang benar begitu adanya. Masuk jurusan berjuta-juta kali lipat bikin stres sampe bikin gue jadi penyakitan. Ini serius. Jadi buat para mahasiswa baru berbahagialah kalian setahun ke depan. Buat yang baru pada masuk jurusan, persiapkanlah diri kalian. Perjuangan keras yang sesungguhnya baru akan kalian rasakan. Di tahun kedua ini, gue dapat teman-teman baru dan keluarga baru. Gimana ga mau deket sama temen-temen kalo kita terkadang kalo nugas bisa 24 jam atau lebih bareng-bareng terus. Yaak, semua karena tugas besar yang sangat luar biasa 'indah' itu. Seringkali kita nginep di sekre bareng-bareng. Bangun pagi abis tidur di sekre, kesiangan, terus langsung masuk kelas dan belum mandi juga udah biasa. I'm gonna miss those moments. Gila karena tugas tapi dihadapi rame-rame jadi yaaa sudah lah. Haha. Belum lagi kalau di himpunan lagi ada kegiatan yang waktunya iris mengiris alias beririsan sama kegiatan akademik. Nyamnyamnyam. Tinggal tunggu waktu tepar kalo kondisi lagi nggak fit. Tingkat 2 itu bagaikan perpindahan suhu yang ekstrim, dari mode santai sewaktu TPB berubah jadi mode 'Gilaaak, gue bentar lagi mati!'..

Tingkat 3 nih. Di liburannya, gue udah jadi 'pengkader'. Gue udah ngosjurin anak orang. Gue yang tahun sebelumnnya di-SPARTA sekarang udah nge-SPARTA. Wew. Ditambah beberapa kegiatan himpunan lain yang gue punya tanggung jawab juga dan sebagian besar udah tumpuk menumpuk waktu bahkan resource-nya. Lucu deh, tiap ada rapat terkadang ketemunya orang yang itu lagi itu lagi. Hahaha. Panik juga bareng-bareng jadinya. Intinya, dimulailah kehidupan tingkat 3 ini dengan seabrek kegiatan :D

Sekarang, untuk kegiatan akademisnya gimana? Hmm, kalo kata anak ITB, biasanya tingkat 3 itu, tingkat ter-'nggak waras' yang pernah ada. Level dewanya selama 4 tahun kuliah. Haha. Gue sendiri terkadang merupakan tipikal orang yang bakal mikir di awal "mati nih gue, mati nih gue", padahal sebenernya setelah dijalani, ya udah, gue jalani dengan seloooow. Gue jalani aja semuanya dengan santai. Em, kadang stres sih kalo udah keterlaluan, tapi wajar dong namanya juga manusia yang masih bisa jenuh. Asal ga sampe depresi aja. Hehe. Hari pertama masuk semester 5 atau hari pertama perkuliahan di tingkat 3, gue udah dapet tugas kecil. Ya, tugas kecil yang udah mulai menyentuh kodingan. Gila ga tuh! Rrr, biasa aja sih, namanya juga IF, apaan lagi tugasnya kalo kaga ngoding. Haha. Pokoknya tingkat 3 itu luar biasa kejam deh. Kacau. Gue beneran sampe jadi penyakitan sejak pertengahan semester 5. Sampai-sampai gue pernah diculik dan dibawa pulang ke Cirebon gara-gara tewas. Yah, itu karena gue yang ga bisa jaga kesehatan sih.

Masuk ke semester 6, yang katanya semester paling tidak bisa menghela nafas lega ini, entah kenapa pas awal-awal gue merasa masih agak lancar. Ga segila semester sebelumnya. Padahal katanya bakal jadi semester paling 'unforgettable'. Sampai masa uts, kegiatan akademis dan himpunan masih bisa gue handle dengan cukup baik. Selewat itu, gue beneran hampir mati. 'Dementor's kiss' datengnya ga kira-kira, belum lagi ditambah dengan tugas himpunan yang kemarin itu sempat sedikit menyita waktu dan malah jadi molor kerjaannya. Huft. Belum lagi ditambah kehidupan gue di tempat lainnya *eh, emang gue hidup di mana lagi? haha*. Pokoknya, kehidupan keras pun melanda para mahasiswa semester 6. Tapi, mungkin bener yang senior gue pernah bilang dan udah gue rasain sendiri juga. Semester 6 itu paling berat, tapi kita sudah mulai terbiasa dengan itu semua dan juga sudah mulai menjalankan semuanya dengan 'ya sudahlah, kerjain aja daripada waktunya dipake buat ngeluh terus' atau mungkin juga kita sudah mengerti apa itu tawakkal dengan baik. Haha. And it was going well for me. Alhamdulillah lagi dan lagi, nilai akademis gue sebenernya naik kalo dibandingin sama semester 5. Haha.

Dari kehidupan 3 tahun itu, gue masih ngerasa, kok hidup gue stagnan ya? Gitu-gitu aja. Ga kayak orang lain. Gue berasa masih jalan di tempat, sedangkan orang lain mungkin udah lari marathon. Kayaknya gue lagi butuh satu motivasi baru yang bisa bikin gue mau mulai bergerak lagi buat ngejer ketinggalan gue dari orang lain. Tapi, sampai sekarang, kerjaan gue masih sama, cuma tidur-tiduran, main game, nonton film, makan dan tidur lagi. Hwaaaa. My life.