Senin, 13 Desember 2010

he was out there in this very cold night

Pagi ini gue abis UAS agama dan lanjut UAS mata kuliah IF2030 siangnya. Ya, kode mata kuliah ini sangatlah tidak asing bagi kami anak IF dan EL. Alstrukdat. UAS dari jam 12.30 sampai 14.30, 4 soal dan compile error. hahaha :D

Selesai UAS, gue kumpul angkatan buat latihan drama di dingdong. Gue dateng bentar sih, terus karena laper jadi ke Borju (kantin di Labtek V) buat makan dulu. Alhasil, begitu gue sama yang lain yang abis makan balik lagi ke dingdong, latihan udah beres. fufufu.

Gue diajak Aul nonton Narnia. Ya udah, gue ikut aja buat refreshing abis UAS mata kuliah super dewa itu. Gue sama Aul berangkat duluan. Ardhin sama Beyri yang mau ngikut juga nyusul gara-gara si Beyho --panggilan buat Beyri Maho-- lagi dubbing. Yah, si Beyho emang dapet peran utama buat main di drama sebagai performance angkatan buat Mukrab HMIF 2010 yang bakal diadain hari Sabtu ini.

Ah, udah ngalor ngidul nih. Sebenernya yang mau gue ceritain itu bagian setelah gue beres nonton. Narnia selesai diputar kurang dari jam 9. Gue yang kosannya deket Ciwalk --tinggal ngesot ke sana-- pisah sama mereka bertiga. Gue jalan sampai belokan ke arah kosan. Eh, gue laper. Terus gue liat McD yang di Premiere. Ya udah, gue nyebrang ke McD. Pesen paket Beef Burger seharga Rp15000,00 + pajak 10% jadi Rp16500,00. Begitu gue keluar, ada anak kecil yang jual koran duduk di pintu keluar McD. Dia cuma bilang, "Beli korannya, Mba. Buat beli buku". I dont know whether I have to trust him or not. Gue cuma beranjak dari situ, Nyebrang lagi.Tapi, gue masih merhatiin anak kecil itu. He was still there. Gue kasian banget sama dia. Udah malem. Lewat jam 9 dan dia masih ada di luar sendirian sambil jualan koran.

Gue pun balik lagi ke McD. Cuma sekedar bertanya. Ngapain di sini sampai malem? Jualan koran buat apa?
"Buat beli buku". //perasaan gue, anak sekolah udah mau beres ujian, kenapa baru mau beli buku?
Oh, buat beli buku? Emang sekarang kelas berapa?
"Kelas 4"
Sekolahnya dimana?
"Itu, SD Cipaganti" #padahal gue ga tau ada atau ga SD itu
Ah, ya udah deh. Mana korannya? Saya beli satu.
*sambil nerima koran, ngasih duit buat bayar koran*
Sekolahnya yang rajin ya. Cepet pulang nanti dicariin, udah malem loh. Dingin lagi.

If I said that life's unfair, someone else would say that my life is fair enough.
I still don't get it. What's wrong with this world?
He was just a boy.
I ate McDonald in my cozy room and he was out there. Sitting on the floor. Holding the unsold newspapers. He worked. Yes, he was still out there in this very cold night.

Minggu, 12 Desember 2010

she wrote something about me in her blog

~raches :*

akhir-akhir ini jadi sering lagi main sama raches. hehehe. seneng deh :)
soalnya kan jadwal if sama sti tuh saling berkomplemen. pas yang satu kuliah yang satu nggak„ pas yang lain kuliah, yang satu nggak. satu-satunya waktu kita sekelas cuma tiap rabu pagi yaitu pkn dan agama yang beberapa kali kita bolosin. hehhehe

jadi mengingat-ingat, kenapa yaa aku deket sama raches? padahal seinget aku dulu awal-awal banget TPB dia termasuk unsur yang diskrit. yang maennya ama cowok-cowok diujung sono (baca : fitra, ardhi, rano, ). trus kalo istirahat suka syung hilang entah kemana. iya nggak sih?

hemm„ mungkin itu masalah intensitas juga. hehehe, soalnya saya bener-bener sekelas sama raches itu 1 tahun pisan pas tpb. dari mulai kelas stei 3 untuk pelajaran2 yang dibaginya mod 4, pti-a sama dre yang dibaginya mod 6, sampe pelajaran-pelajaran yang entah dibagi karena apa seperti bahasa inggris.
selain itu nim kami nggak terlalu jauh juga, 263 sama 267.. jadi banyak tugas-tugas akhir semester yang menyebabkan kita end up jadi satu kelompok.

tapi entahlah, bahkan kalau harus memilihpun akhirnya kita jadi satu kelompok. hahaha, jadi ada berapa tugas akhir yang bikin kita bareng ya ches? kpip, fisika 1, fisika 2, tubes pti, ttki„ terus juga bahasa inggris kita sekelompok bikin nemenin alvin bikin essay. hahaha. ada yang kelewat nggak ya? hemmm…
aku suka banget sama yang namanya raches karena dia kecil dan mukanya masuk di tangan saya jadi ngingetin saya sama temen sma saya. hahha

aku juga suka sama raches soalnya dia termasuk orang2 yang nggak marah buku-bukunya (dan bahkan anggota tubuhnya) dicoret-coret untuk memuaskan hasrat iseng saya. hehehe. apa bahkan diem aja yaa??
dia juga orang yang mau aja ngedengerin cerita-cerita saya yang meskipun itu udah diulang berkali-kali dan dia cuma bilang “ini udah ke (berapa) kali, git” …

kadang-kadang jalan pikiran kita sama„ jadi ngetawain sesuatu bareng, ngatain sesuatu bareng, ngomongin sesuatu bareng, ngegosipin sesuatu bareng. hahaha

atau juga kadang-kadang pikiran kita nggak sinkron jadi kita ngobrol dengan membicarakan topik yang berbeda. gw rasa bagian ini kita udah super duper random banget, cuma butuh didengerin, nggak peduli lawan bicaranya ngomongin apa. terus kita ketawa bareng ngatain diri sendiri.
hahahahahaha

semester depan kayaknya kita nggak ada yang sekelas deh, gimana yaa?? kita nggak bisa “ngobrol serius” lagi rach :))

Sosok Seorang Pemimpin

Pagi ini, saya buka salah satu jejaring sosial yang bernama facebook. Membuka Top News dan melihat sebuah status teman saya yang bernama Tomi :
"Subhanallah, Ketua OSIS yang dulu mengkader saya pas SMA skrg menjadi Ketua BEM UI.. Bagaimana dengan saya?hahahaha... Tak pantas rasanya jika kita sudah merasa pantas mengemban amanah besar, yang pantas kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk mengemban amanah.." 
Sang Ketua OSIS itu adalah Maman Abdurakhman. Spontan saya langsung membuka profil fb Mas Maman (panggilan kakak kelas di SMA saya dulu 'Mas dan Mba'). Saat saya yang dulu masih cupu dan baru beranjak dari rok biru menjadi abu-abu, saya dikader oleh angkatan Mas Maman. Sampai saat itu, saya masih belum mengerti bahwa sosok seorang pemimpin sangat memberikan pengaruh yang luar biasa bagi keberjalanan suatu organisasi. Dan sekarang Ketua OSIS saya tersebut memimpin lingkup yang lebih besar lagi, pemimpin tertinggi di kemahasiswaan Universitas Indonesia.

Pertama kali bertemu dengan Pak Ketua OSIS tersebut di bangsal SMA Negeri 1 Cirebon. Sekolah yang dulu masih merupakan sekolah favorit. Ia maju ke depan kami, siswa kelas 1 yang sedang menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS). Anak SMP yang masih suka ribut, berisik, dan bergurau. Namun, saya ingat apa yang dilakukan Mas Maman hanyalah mendiamkan kami menggunakan tangannya yang dibentuk sebagai tanda yang kami pahami adalah tanda mohon tenang. Aura kepemimpinannya memang tinggi, ia punya kharisma dari seorang pemimpin. Saat itu, kami pun sekitar 360 orang langsung tenang.

Saya bertanya kepada teman saya, "Siapa tuh?". "Itu ketua OSISnya tau". "Oh."
Karena sedang MOS saya pun tidak berani untuk ngobrol lagi. Dua organisasi siswa tertinggi di sekolah adalah OSIS dan MPK. Saat itu, saya sudah mengenal ketua MPKnya karena dia sekelas dengan saya di tempat les. Nama ketua MPK saat itu adalah Ichwan.
Sepintas pertama kali, saya melihat sosok Mas Maman adalah saat kaderisasi SMA tadi. Nah, kesehariannya di lingkungan sekolah yang saya lihat adalah dia selalu tersenyum. Bahkan kepada adik kelas yang tidak mungkin dia kenal juga dia mau senyum duluan. Budaya yang dulu ditanamkan di SMA kami adalah saling senyum, sapa, dan salam. Yang entah mengapa saat saya kelas 3 budaya tersebut sudah luntur.

Setahun saya merasakan lingkungan akademis yang begitu kondusif. Lingkungan yang benar-benar membuat kita belajar. Saat kelas 1 SMA, saya pun ditunjuk oleh Ketua Murid di kelas saya X4, yaitu Riyan yang biasa dipanggil Jay untuk menjadi perwakilan kelas di MPK. Jay, dulu merupakan ketua OSIS saya waktu SMP dan saya dulu memang sempat diberi amanah untuk menjadi wakilnya bersama Hermawan.

Alhasil, saya pun menjadi anggota MPK sampai kelas 3. Keuntungan menjadi anggota MPK dari kelas 1 adalah, saya sudah bisa ikut belajar berorganisasi lebih cepat dari kawan-kawan saya yang lain. Karena kebijakan di SMA saya adalah pemangku amanah sebagai pengurus OSIS adalah hanya siswa kelas 2. Siswa kelas 1 belum bisa ikut berkontribusi di OSIS. Nah, kebetulan, kurang lebih 1 bulan setelah kaderisasi siswa baru usai, biasanya dilakukan pemilihan Ketua OSIS baru, dan sistem pembentukan struktur organisasi dan pemilihan stafnya adalah dengan sistem kabinet. Sebagai MPK, tugas yang kami emban adalah untuk menyeleksi calon ketua OSIS yang baru hingga menjadi 3 terpilih yang nantinya akan dilakukan kampanye serta pemilu. Mungkin tugasnya seperti PanPel kalau sekarang di himpunan. Tugas lain dari MPK adalah mengawasi kinerja dari kepengurusan OSIS dan pada akhir masa baktinya, MPKlah yang menerima Laporan Pertanggungjawabannya (LPJ). Yah, itu persis kayak tugas DPP lah kalo di HMIF sekarang. Disana kita benar-benar dituntut untuk bertindak seobjektif mungkin. Tidak memandang apakah dia teman kita atau bukan. Hal ini tidak begitu masalah saat saya kelas 1. Saya masih bisa berlaku objektif karena kepengurusa OSIS tidak dipegang oleh temang satu angkatan saya. Dan tantangan untuk tetap bersikap objektif ada saat pemilihan Ketua OSIS saat kelas 2 dan untuk menerima LPJ mereka.


Ya, setelah MOS selesai, dilakukan penyeleksian untuk calon ketua OSIS. Masa bakti selanjutnya sudah terpilih adalah Mas Heru, yang sekarang merupakan mahasiswa ITB juga di program studi Matematika '08. Salah satu wakilnya, yakni Ka Monic sekarang kuliah di UI (saya lupa jurusannya). Setelah LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang juga merupakan tanggung jawab MPKdan pelantikan, diselenggarakan LPJ dari masa bakti sebelumnya, yaitu masa bakti 2007 yang dipimpin oleh Mas Maman.


LPJ dilakukan 2 hari. Karena ada 8 divisi, biasanya 4 divisi di hari pertama, dan 4 divisi sisanya di hari kedua dilanjutkan dengan Sekretaris, Bendahara, dan Ketua OSIS. Saat LPJ berlangsung, saya yang notabene masih kelas 1 hanya menyimak karena saya memang tidak tahu bagaimana keberjalanan kepengurusan saat itu. Di saat LPJ dari Ketua OSIS diterima oleh Ketua MPK saat itu, Mas Maman yang memang berjiwa kepemimpinan tinggi, benar-benar meluangkan waktu untuk mengucapkan terima kasih dengan menyebutkan satu per satu pengurus OSIS dan menyanjung apa yang telah mereka masing-masing lakukan. Saat menyimak LPJnya, sayu baru mulai mengerti apa yang harus dilakukan sebagai seorang pemimpin. Dia benar-benar sosok pemimpin yang mengayomi bawahan dan massanya. Dan dia selalu tenang dari yang saya lihat.


Mendengar cerita tentang dia dari teman-teman dan guru saya, sangatlah wajar jika ia menjadi seperti sekarang ini. Mas Maman yang dulu aktif di organisasi tapi selalu meraih peringkat pertama di kelas. Lulus SMA, ia pun berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari Sampoerna selama dia berkuliah di Teknik Mesin UI. Ya, saya tahu sedikit cerita tentang dia karena saat kelas 3 SMA, ada jam pelajaran khusu untuk Bimbingan Konseling, dan suatu hari ibu guru BK, mengundang Mas Maman yang sedang berkunjung ke SMA kami untuk masuk ke beberapa kelas 3 sekedar untuk sharing pengalaman Mas Maman yang memang luar biasa. Sosok yang sederhana, murah senyum, pejuang, tidak pernah menyia-nyiakan waktu, sholeh dan rajin beribadah, tawakal, baik kepada semua orang, mampu mengayomi orang di sekitarnya. Saya bersyukur pernah mengambil pelajaran dari dia dan berada di bawah kepemimpinannya walaupun hanya kurang dari 2 bulan. Mungkin sosok pemimpin seperti ini yang dibutuhkan oleh Indonesia sekarang. Kami tunggu masa baktimu untuk negeri, Mas. 

Terakhir komen buat kalimat terakhir dari Tomi. Saya juga mempertanyakan kepada diri saya sendiri, amanah itu membuat saya takut. Takut tidak bisa menjalankannya dengan baik, bahkan takut kalau saya tidak bisa menjalankannya. Setuju dengan pernyataan mari mempersiapkan diri untuk mengemban amanah. Mari bangkit! Hilangkan sifat malas dan tidak produktif!! *berusaha menyemangati diri sendiri*

Kamis, 09 Desember 2010

Masih Terlalu Banyak Hal setelah Demo Tubes 2

Seperti biasa, kembali berada di depan laptop. Dan sekarang gue lagi ada di sekre2 HMIF. Jam 1 tadi ada demo tugas besar Alstrukdat yang kedua --penutup tugas Alstrukdat semester ini. Yayaya, tugasnya bikin Spreadsupersh*t!!!

Yang kayak excel dan kawan-kawannya itu lah. Harus pakai bahasa C dan ga boleh #include string.h :((
Ok. Tapi semua itu telah berlalu. Tepatnya tadi siang dari jam 2 sampai jam 3 kelompok tubes2 gue yang berisikan orang-orang terpilih seperti Kevin, Marchy, Hartono, Gita Cahyani, dan yang pasti gue, --ketawagajelas. Huft.

Gila, hari ini gue dijalan hampir 2 jam. Separuh perjalanan menuju Cirebon tuh kalo gue mudik *jadi homesick*. Padahal tadi gue harus kumpul kelompok sebelum demo jam 1. Tapi baru nyampe jam setengah 2, tepat saat waktu perjanjian demo dengan sang asisten. Untung, kakak asistennya juga telat dan baru dateng kurang lebih jam 2. Gue pun masih bisa bernafas lega setelah lari-larian dari gerbang depan sampai dingdong :D

Beres demo --ga bisa dibilang beres sih orang banyak yang gagal--, gue langsung nyekre. Hohoho. Sumpah ya, hari ini gue gabut banget. Bukannya ngerjain makalah strukdis yang deadlinenya minggu depan *masih lama buat seorang procastinator kayak gue* atau ngapain gitu. Nah ini sekarang gue malah cuma nongkrong di sekre, ga tau apa yang harus gue lakukan, malah gangguin orang yang lagi nubes --red:Gita Desrianti -- dan ngebuzz dari YM biar yang lagi nubes berasa terganggu. *evilsmirk*

Somebody told me? Gue bingung harus ngapain? Masih banyak sih kerjaan yang harus gue lakuin, tapi belum deadline. Gue juga harus belajar buat UAS minggu depan yang notabene gue masih belum paham tentang materi UAS itu. Tapi, tapi, tapi.. Gue MALAS.. hhhhhh

Sekarang sudah lewat Maghrib dan gue pun masih duduk di dekat papan tulis di sekre2 ini. fufufu.

Selasa, 07 Desember 2010

It was A Warning

It was A Warning
Yeach, it was.

Sabtu malam kemarin, gue balik dari kampus hampir jam 9 malam. Gue mau pulang ke rumah kakak gue di Soekarno Hatta. Tapi, gue harus ngambil barang dulu di kosan. Gue pulang naik Margahayu Ledeng dari Cihampelas (dari kosan gue ke Cihampelas memang dekat). Angkotnya kosong banget, jadi gue duduk di depan deh.

Sambil minum sekaleng milo gue nyalain YM buat ngilangin kejenuhan di angkot. Perjalanan yang gue tempuh akan cukup lama soalnya. Lalu, ga jauh dari Cihampelas, sekitar lampu merah BIP, ada seorang ibu yang kelihatannya abis belanja. Dia kelihatannya suka ngobrol. Gue yang awalnya niat mau tidur sepanjang perjalanan jadi ga ngantuk.

Sepertinya dia suka cerita juga. Gue cuma berniat buat mendengarkan saja dan hanya menjawab pertanyaan seadanya. Ternyata, dia menyinggung beberapa hal yang hamir gue lupa lakukan akhir-akhir ini, juga beberapa hal yang gue ga suka padahal itu ga baik buat gue kayak ga suka makan sayur. Pembukaan pembicaraan dia nanya gue kelas berapa? Gue masih terlihat muda ya? Ahaha:D


Hers: Baru pulang?
Gue: Iya, Bu.
Hers: Kelas berapa?
Gue: Udah kuliah, Bu.
Hers :Oh, udah kuliah, masih kecil ya. Masih muda? Baru 17 tahun?
Gue: Ah, ga. Udah 19, Bu.
Hers: Kuliah dimana?
Gue: ITB, Bu.
Hers: Tingkat berapa?
Gue: Baru tingkat 2, Bu.
Hers: Sekarang kuliah 5 tahun ya? Jurusan apa?
Gue: Semoga cuma 4 tahun aja. Informatika, Bu.
Hers: Susah ga kalo komputer gitu? 
Gue: Ya, lumayan #sedih mengingat tubes
Hers: Asalnya dari mana?
Gue: Cirebon, Bu.
Hers: Saya pernah ke sana. Panas banget ya di sana?
Gue: Ahaha, iya, Bu, namanya juga pinggir laut.
Hers: Kos dimana?
Gue: Di Kebon Bibit sih, Bu.

Pembicaraan masih normal
Lewat Riau Junction.

Hers: Tingkat 2 sekarang udah sering pulang malem ya?
Gue: Iya sih, Bu. Udah mulai sering pulang malem gini. 
Hers: Saya dulu waktu tingkat 3 kayaknya baru pulang malem.
Gue: Oh, Ibu dari ITB juga. Jurusan apa, Bu?
Hers: Ah, ga. Saya mah manajemen. Ga suka saya sama IPA kayak gitu. Saya IPS.
Gue: Oh, ya lagian kalo itu mah urusan suka sama hobi, Bu. Tergantung minatnya dimana.
Hers: Lewat sini ya?
Gue: Oh ga, Bu. Sekarang mau ke rumah kakak di Soekarno Hatta.


-- sejauh ini pun masih normal


Hers: Itu giginya kenapa ga dikawat? Ga diurusin ya waktu kecil?
Gue: Emang saya takut dicabut gigi, Bu. Soalnya, kalo mau dikawat, gigi saya harus ada yang dicabut.

#pengalaman buruk waktu SD cabut gigi terus darahnya ga berhenti-berhenti, terus ga pernah mau ke dokter gigi lagi dan jadi takut cabut gigi.

Hers: Wah, mending diurusin dari sekarang. Ya, mungkin sekarang belum kepikiran, tapi ntar kalo udah kerja kan barangkali ganggu penampilan, sayang soalnya. 
Gue: Iya, Bu. #padahal gue masih takut buat cabut gigi sampai sekarang, ahahaha :D
Hers: Padahal kalau berdo’a sama Tuhan, apa saja juga bisa terjadi. Tuhan kan bisa segalanya. Buktinya, teman saya ada yang giginya patah, terus berdo’a buat minta gigi emas. Sudah lama dia berdo’a, sampai dia sudah lupa. Pagi-pagi dia bangun, terus Tuhan bilang coba pegang giginya pakai lidah. Ternyata giginya sudah jadi gigi emas.
Gue: (tertawa kecil hampir ga percaya)
Hers: Bener loh. Mungkin yang denger mah ga percaya malah ketawa. Tapi kan kalo Tuhan mau apa aja juga ya bisa aja. Yang penting kita percaya. Kalo percaya terus berdo’a semua juga bisa aja terjadi. Tuhan kan bisa ngelakuin apa aja. Bahkan, kalo mau ngebangkitin yang udah wafat juga bisa.
Gue: Iya, Bu. #sampai sini gue kira dia Christian


Ada YM masuk lagi, obrolan berhenti selama gue ngebales YM.


Gue: Rumahnya di Binong ya, Bu? Sebelah mana?
Hers: Eh, kok tau?
Gue: Iya, kan tadi Ibu nanya arah Binong pas mau naik.
Hers: Tau Binong? Saya di deket sate situ.
Gue: Oh, sate yang lampu merah?
Hers: Iya, itu yang punya tetangga saya. Satenya enak.
Gue: Iya, emang yang disitu satenya enak. Sering beli juga.
Hers: Yang punyanya itu baik banget. Saya aja suka dikasih. Suka ga mau dibayar kalo saya mau beli. Sekalinya beli kalo saya beli 2 dikasih 5. Beli 5 dikasih 10. Sampai saya ga enak sendiri kalo mau beli.
Hers: Suka masak?
Gue: *malu*. Ahaha, ga Bu. Ga bisa masak.
Hers: Ya, bakat kan ada yang langsung kelihatan ada yang harus belajar dulu terus kelihatannya nanti. (dan seterusnya). Nah, daripada beli makanan mending buat sendiri. Soalnya nasinya aja airnya pakai air ledeng. Itu kan ga baik, itu ada kaporitnya. Ya, kaporit kan ga baik, itu kan buat nyuci ya. Makanya saya mah lebih suka masak sendiri. Sekarang kan penyakit awalnya kebanyakan dari makanan. Kan kita bukan hidup buat makan. Tapi makan buat hidup.
Gue: Iya, Bu. Tapi ya gimana lagi kalo anak kosan mah susah juga, Bu.
Hers: Eh, bisa. Kalo berdo’a, minta sama Tuhan biar dapat makanan yang sehat.
Hers: kalo saya sama makanan tuh suka cepet bosen. Bosenan. Kalo sekalinya lagi suka makan bubur kacang ijo bisa 3 mangkok tapi abis itu bisa berapa bulan sampe  setahun ga makan-makan itu lagi. Jus aja sekarang saya udah lama ga minum. Padahal dulu saya bisa minum 6 liter. Ya, mungkin itu yang diajarin orang tua dulu sih. Kalo lagi ada atau musim mending makan yang banyak. Kan, kalo ga ad amah susah ya nyarinya. Bukan ga mungkin sih. Kalo Tuhan mau, Tuhan bisa kasih. 


Gue kira dia Cina, karena putih dan sipit, sampai akhirnya dia bilang 


Hers: Ya, Bapak saya Prancis, Ibu saya Jepang.
Gue: hm. 
Hers: Makanya harus suka ngedenger. Kalo orang tua bilang nyuruh sikat gigi malam-malam. Nyeselnya baru sekarang kalo udah bolong gini.


#first warning: satu minggu ini gue hampir ga gosok gigi kalo mau tidur gara-gara ga tidur di kosan. Dan kalo pulang malem maunya udah langsung tidur, males ke kamar mandi dulu.
Sampai perempatan Jalan Jakarta.


Hers: Kalo makan itu harus sayur dulu biar bagus baru masuk daging. Nah, kalo sekarang mah udah tau kan kemarin saya ikut seminar kesehatan makanya dilaksanain. Makan sayur tuh perlu banget apalagi kalo perempuan kan, ntar gimana,


#kedua: gue sama sekali ga suka sayur!! Itu buruk. Dan siangnya gue baru ngomongin, gue mau survey buat konsumsi mukrab tapi kalo ke tempat catering yang sekaligus warung makan gitu kalo nyobain sayur gue ga bisa makannya. Gue sama sekali ga suka sayyuuuurr!! Sayur = Pahit.
Udah deket jalan laying di Kiara Condong.


Hers: Eh, jangan marah ya. Kamu tuh orangnya susah jatuh cinta ya.
Gue: (shock). Ahaha.
Hers: Iya, susah jatuh cinta ya, tapi sekalinya jatuh cinta bakal setia. Terus orangnya perasaan banget. Kalo udah disakitin susah maafinnya.
Gue: Cuma bisa nelen ludah.


Kenapa tiba-tiba dia tau. Dia peramal? Ya, emang gue orangnya susah banget buat jatuh cinta, atau sekedar suka sama orang. Perasaan gue itu flat banget sama hampir semua orang. Selama 19 tahun gue hidup, gue baru pernah suka sama dua orang. Yang pertama, ga ada yang tau. Haha, karena gue tipe orang yang kalo suka ya udah suka aja, ga akan gimana-gimana dan ngapa-ngapain, Cuma gue doang yang tau. Lagian sekarang udah lupa. Itu kisah jaman bareto pisan geus lila. Tapi kalo diinget ke belakang itu konyol. Yang kedua, mungkin hanya beberapa temen deket gue yang tau. Dan ini pertama kalinya gue berani cerita hal ini di sini. Di dunia maya ini. Soalnya yang ini gue emang sempet jadian. Dikala gue emang ga boleh pacaran sama sang ayah tecinta, dikala gue emang tomboy (temen gue lebih banyak cowok daripada cewe, doyan banget bola, suka yang ekstrem-ekstrem dan sebagainya, ahaha *blushing*), dikala gue suka kena gosip karena emang gue sering main sama cowo tapi gue selalu flat banget mau digosipin apapun, dikala gue cuma cinta setengah idup sama Kimi Raikkonen, dikala gue yang masih labil juga (masih kelas 2 SMA waktu itu), dikala kehidupan gue sangat bahagia menjomblo di saat yang lain sibuk pacaran. Akhirnya gue pun pacaran setelah pedekate berbulan-bulan. Dan berbulan-bulan kemudian, gue pun putus karena satu alasan yang paling krusial. Dan kalo ga salah gue maapinnya lumayan lama. Gue jarang sampai luar biasa kesel atau ga suka sama orang. Tapi sekalinya gue udah sebel yang luar biasa, ya gue bakal susah maafin orang itu.


See, tebakan ibu itu sangatlah benar kalo gue orang yang super sulit jatuh cinta dan bakal susah maafin orang kalo emang udah kelewat sakit hati.


Lanjut.
Hers: Kamu tuh cocoknya di bisnis loh.
Gue: Hah?
Hers: Iya, coba aja ikut sama orang dulu nanti, terus ya bisnis.

#haduh, jauh juga dari kuliah Teknik Informatika yang sekarang lagi gue jalanin. Dan gue masih bengong karena gue masih ga suka sama bisnis, perekonomian dan sebagainya.

Hers: Namanya siapa?
Gue: Rachma, Bu.
Hers: Bagus ya namanya Rachma. Ya, banyak-banyak berdo’a aja. Suka sholat tahajud ga?
Gue: Ah, iya udah lama ga sholat malem.


Gila, gue baru sadar gue udah lama banget ga sholat malam. Huft. Sepertinya akhir-akhir ini gue kurang bersyukur. Dulu aja, atau ga kalo gue lagi butuh sama Allah, gue rajin banget shalat tahajud dan berdo’a. Mungkin ini sedikit tamparan juga buat gue. Last warning nih. Gue jadi inget, dulu waktu SMA gue masih terbilang rajin buat shalat malam. Apalagi waktu kelas 3 SMA. Gue bener-bener memohon untuk diberikan dan dipilihkan yang terbaik oleh Allah. Ya, mungkin buahnya adalah status sebagai mahasiswi STEI ITB inilah yang diberikan oleh Allah. Berkah yang luar biasa. Disaat gue dulu bimbang dang a tau sebenarnya gue labih baik ngambil jurusan apa. Kalo ITB, itu memang cita-cita gue dari dulu. Gue dulu sama sekali ga mau ikut ujian buat masuk perguruan tinggi lain selain ITB. Parah banget y ague. Tapi, akhirnya gue nurutin apa kata mama buat ikut simak UI dan nurutin apa kata papa buat ikut UM UGM. Mungkin memang belum jodoh dan Allah ga ngasih jalan hidup gue ke sana, gue ga diterima. SMUP juga gue ikutan karena ujian perguruan tinggi terakhir sebelum pengumuman USM Terpusat ITB, kata mama buat jaga-jaga. Ya, dan ternyata Allah dengan sangat baik mengabulkan apa yang gue pinta. Allah udah ngasih yang terbaik buat gue. STEI ITB saat itu merupakan fakultas dengan passing grade tertinggi se Indonesia. Dan gue berharap seandainya gue diterima dimanapun, itu akan menjadi jalan gue yang terbaik dengan petunjuk-Nya. Alhamdulillah gue udah melewati masa TPB walaupun dengan hasil yang kurang memuaskan dan sekarang berada di lingkungan Teknik Informatika ITB. Namun, sekarang gue kurang bersyukur. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini yang hanya mendekatkan diri kepada-Mu di saat membutuhkan kuasa-Mu, ya Allah. Jangan berhenti memberi peringatan dan teguran kepada hamba-Mu ini, disaat hati ini kurang dekat dengan-Mu atau bahkan hampir melupakan-Mu. Dekatkanlah selalu hati ini dengan-Mu ya Allah. Amin.


Hers: Iya, biasain aja sholat malem pasti ntar enak banget sambil berdo’a sama Tuhan. Biar sukses, terus suaminya sholeh coba. Enak deh kalo udah biasa, malem gitu, sepi, tenang.
Gue: Amin ?. Ibu namanya siapa, Bu?
Hers: Emitias Putri. (turun dari angkot).


nb: kurang lebih begitu percakapannya tapi ga exactly kayak gitu

LED PingPong [DUK- part2]

Pada postingan sebelum ini, baru diulas tentang controller dari LED PingPong yang gue buat sebagai projek akhir dari kelas Praktikum Sistem Digital. Nah, sekarang kita ulas tentang rangkaian utamanya yang merupakan Top Heirarchy dari semua rangkaian yang digunakan.

Dalam membuat rangkaian LED PingPoing ini, digunakan beberapa rangkaian dari praktikum sebelumnya, yaitu bcd_counter, bcd_7segment, dan clockdiv. Rangkaian bcd_counter digunakan untuk menghitung skornya dan bcd_7segment digunakan untuk menampilkan hasilnya ke dalam 7segment pada board FPGA. Clockdiv sendiri berguna untuk mengatur clock sehingga saat implementasi pada board FPGA, pergerakan LED yang dianalogikan sebagai pergerakan bola dapat terlihat.


Rangkaian yang gue rancang kayak gini :


LIBRARY IEEE;
USE IEEE.STD_LOGIC_1164.ALL;


ENTITY mainpingpong IS
PORT (start1, start2, button1, button2, clock: IN STD_LOGIC;
 led1,led2,led3,led4,led5,led6,led7,led8,A1,A2,A3,A4,A5,A6,A7,B1,B2,B3,B4,B5,B6,B7: OUT STD_LOGIC);
END mainpingpong;


ARCHITECTURE structural OF mainpingpong IS
component pengontrol is
PORT (start1, start2, button1, button2, clock: IN STD_LOGIC;
 led1,led2,led3,led4,led5,led6,led7,led8,count1,count2: OUT STD_LOGIC);
end component;


component bcd IS
port(D3,D2,D1,D0 : IN STD_LOGIC;
A,B,C,D,E,F,G : OUT STD_LOGIC);
end component;


component bcd_cnt IS
PORT(CLK, CE, CLR1, CLR2: IN STD_LOGIC;
Q : OUT STD_LOGIC_VECTOR(3 DOWNTO 0);
TC: OUT STD_LOGIC);
END component;


component CLOCKDIV is port(
CLK: IN std_logic;
DIVOUT: buffer std_logic);
end component;


SIGNAL simpenclk, count1,count2, A, B : STD_LOGIC;
SIGNAL Q1,Q2 : STD_LOGIC_VECTOR (3 DOWNTO 0);
BEGIN
Time : clockdiv PORT MAP (clock,simpenclk);
kontrol : pengontrol PORT MAP (start1,start2,button1,button2,simpenclk, led1, led2,led3,led4,led5,led6,led7,led8,count1, count2);
counter1 : bcd_cnt PORT MAP (count1, '1' , start1 , start2,  Q1, A);
counter2 : bcd_cnt PORT MAP (count2, '1' , start1 , start2,  Q2, B);
Segment1 : bcd PORT MAP (Q1(3),Q1(2),Q1(1),Q1(0),A1,A2,A3,A4,A5,A6,A7);
Segment2 : bcd PORT MAP (Q2(3),Q2(2),Q2(1),Q2(0),B1,B2,B3,B4,B5,B6,B7);
END structural;


Jadi, untuk membuat projek LED Pingpong ini sebenarnya gue Cuma membuat dua rangkaian tambahan, sisanya menggunakan rangkaian yang sudah ada :D
Selamat berkarya!!