Rabu, 26 Desember 2012

Progress = Stagnan

Galau cin(TA) buat anak tingkat 4 itu sangatlah wajar. Semester ini, saya mengambil mata kuliah Tugas Akhir 1. Mata kuliah 2 sks yang cukup lumayan membebani pikiran. Pertama, kita harus menentukan topik TA, kemudian mencari pembimbing. Mencari paper untuk dibaca, ya saya tekankan lagi, UNTUK DIBACA! walaupun kenyataannya banyak yang tidak saya baca. Haha.

Topik TA saya pun pada akhirnya adalah expert system a.k.a sistem pakar. Saya memilih expert system (frame based expert system lebih tepatnya) karena ketika membaca salah satu buku AI di perpus, ada kata-kata 'demon' disitu. Saat itu sudah deadline penyerahan topik yang mungkin dipilih juga, alhasil, saya  memutuskan untuk mengambil topik tersebut. Domainnya? Ah, nanti saja.

Langsung saya mengirim email ke dosen wali untuk berkonsultasi, tepat di hari terakhir PRS (Pergantian Rencana Studi), email saya baru dibalas dan saya langsung mendatangi dosen wali saya tersebut. Topik yang saya ambil berkaitan dengan mata kuliah Sistem Berbasis Pengetahuan. Mata kuliah  yang pada awalnya memang salah satu mk yang ingin saya ambil tapi entah mengapa tidak jadi. Oleh karenanya, saya disuruh mengambil mk tersebut, namun jadwalnya bentrok dengan BDNR (Basis Data Non Relasional). Alhasil, saya tetap memilih BDNR dibanding SBP.

Konsultasi pertama, saya masih bingung mau memilih domain apa untuk expert system-nya. Bingung. Pusing. Galau. Namun, harus segera diputuskan. Terpilihlah hal yang berkaitan dengan coklat sebagai domainnya. Alasan memilih coklat? Everyone who knows me must know that I really really love chocolate :)

Domain terpilih. Saya harus mencari seorang pakar di bidang tersebut. Jalan mencari pakar, alhamdulillah cukup dimudahkan. Oh iya, saya akhirnya memilih sistem pakar untuk opt tanaman kakao. OPT itu singkatan dari organisme pengganggu tanaman. Saya pun mencari kontak dosen universitas sebelah di fakultas pertanian. Dosennya baik dan sangat membantu. Dari beliau pun, saya dikenalkan dengan Ibu Kepala Penelitian Tanaman Kakao dari ICCRI Jember.

TA saya memang masih jauh dari kata beres. Hari ini saja, saya baru akan mulai mengerjakan bab 2. Bab 1 masih revisi juga sih -_-. Tanggal 22 Desember kemarin saya sempat pulang kampung membawa laptop, namun saya tidak bisa dan tidak mau mengerjakan TA dulu. Ingin istirahat sejenak karena sudah terlalu jenuh. Salah satu alasannya lagi adalah charger laptop saya tertinggal di sekre 2 dan saya tidak punya akses kunci sekre 2. Hahaha. Bodoh ya.

Nah, hari ini saya pun kembali ke Bandung. Berangkat dari Kota Udang tercinta yang super hoooot menuju Kota Kembang yang super maceeet dari pagi dan baru sampai sore. Hoft. Langsung menuju Warung Pasta karena sudah janjian akan mengerjakan tugas bersama Hapsari, Emil, dan Nunu di sana. Tubes selesai selepas Isya, berniat mengerjakan TA eh malah terdistraksi oleh hal lain dan blog ini juga :). But that's ok! I just need to work much harder! Much much much harder! Mohon doanya ya. Semoga semua urusan kita dilancarkan dan dimudahkan. Amin.

*iket kepala* *buka word* *NeA*

Selasa, 11 Desember 2012

Ladies' Day ~ Ice Skate

Wew, sudah lebih dari satu bulan gue nggak posting :(. Resolusi gue buat tahun 2012 ini pun gagal (lagi), yaitu posting minimal satu kali sebulan. Ah, kelewatnya di bulan November lagi, huhu. Ya sudah lah.

Let's just make a story about today.
Rencana gue dan teman-teman mau ngapain hari ini sudah dibuat sejak minggu lalu. Memang mau ngapain? Gue dan ceciwi lainnya mau main ice skate! Hehe. Sebagai mahasiswa, tentu saja kita diuntungkan secara finansial juga dengan KTM yang kita miliki. Nah, di tempat ice skate satu-satunya di Bandung ini -red: GardenIce-, kita bisa memperoleh diskon 40% dari harga awal. Hanya dengan menunjukkan KTM, kita bisa bermain sepuasnya di sana dengan membayar Rp 36.000,00 saja :O. Sebenarnya, yang bukan mahasiswa juga bisa kok dapat diskon 40%, ada happy hour tiap Senin-Kamis jam 10.00-13.00. Ini gue malahan promosi. hahaha.

Courtesy of Melati Budiana Putri photos

Jadi, tadi siang akhirnya gue bertujuh bareng Sasri, Agast, Hapsari, Nadin, Bobi, dan Riza meluncur ke PVJ sekitar pukul 11.30. Haduh, gue minta maaf banget nih sama kalian. Gue lupa hari ini janjian jam 11 gara-gara gue tidur dan terlalu kebo :(. Alhasil kita ngaret setengah jam. Ampuuuuun! Sesampainya di sana, kita langsung menuju mushola buat sholat. Lanjut makan di tempat Bapak Tua Berjanggut Putih yang jualan ayam goreng tepung. Awalnya mau masuk Rajanya Burger, tapi tidak jadi untuk suatu alasan, hehe. Beres makan, kita langsung ke tempat ice skate. Beli tiket. Pinjem sepatu. Pake sepatu. Dan meluncuuuuur di atas es!

Yang paling jago, tentu saja: Nadiiin the mastah, terus Sasri sang coach baik hati :3. Gue? hahaha. Cuma bisa asal meluncur dan nggak bisa ngerem. hehe. Bahkan, gue memalukan karena sok-sokan gaya ngikutin anak kecil yang unyu-unyu dan super jago ice skate itu terus malah jatoh di tempat *malu-maluin*. Mau ngasih liat fot-fotonya tapi ada di Bobi. Ntar gue upload juga di sini kalo udah dipublish sama Bobi, yak. Hohoho.

Rabu, 24 Oktober 2012

Belajar dan Bermimpi di Kelas Maninfo

Bukan, saya bukan ketiduran di kelas Maninfo. Ya kali juga bisa tidur kalau dosennya Bu Putri. Hehehe.

Tadi pagi di kelas, beliau sempat sedikit menyinggung soal mimpi. Berawal dari basis data konseptual/logical yang benar-benar ideal masuk ke physical dan masuk lagi ke implementasi. Hal tersebut diibaratkan dengan mimpi. Di saat kita punya mimpi, mimpilah setinggi-tingginya tidak perlu memikirkan 'hal teknisnya' dulu. Boleh kita bermimpi dan mengkhayal seimajinatif mungkin. Toh mimpi yang sangat besar pun belum tentu bisa diwujudkan semua kan? Bahkan biasanya hanya secuil dari mimpi itu yang terwujud. Nah, itu lah konsep basis data yang dirancang seideal mungkin dan senormal mungkin untuk menghindari redundansi dan menjaga integritynya.

Kalau kita sudah bermimpi, tentu kita selanjutnya baru melihat realita yang ada di environment-nya kan? Di situ barulah kita akan menemui constraint lain sehingga tidak bisa memenuhi idealisme kita sebelumnya. Bahkan cenderung akan menemui banyak constraint dan hambatan. Sama seperti ketika kita masuk ke physical, saat itu kita sudah mulai membicarakan storage dan akses, bagaimana kita menggunakan storage seminimal mungkin dan mengakses (data retrieval) secepat mungkin sehingga performance-nya oke. Kita harus memperhatikan volume data dari masing-masing tabel dan juga frekuensi aksesnya. Saat itu juga mungkin akan terjadi denormalisasi untuk basis datanya. Yah, sudah capek-capek dinormalisasi sebelumnya kan? Sama saja seperti kita harus bisa memilah mimpi mana yang memang hanya angan belaka atau masih bisa dikompres dengan mimpi yang benar-benar bisa kita wujudkan.

Next, tahap implementasi. Yah, itu sudah dibahas di physical sih. Tinggal hal teknis yang tersisa di sini. Langsung diimplementasikan. Ini tahap konkret dari mewujudkan suatu impian :)

Pesan yang didapat dari kuliah pagi tadi:
Kita boleh menjadi seorang pemimpi, tapi ada kalanya kita harus menjadi realis.

Ada satu hal lagi yang sempat dibahas dan itu suatu hal yang pernah saya dan salah seorang teman saya perbincangkan di messenger. Tentang belajar. Belajar bukan hanya akademik kan? Di kala membahas seberapa besar scope tugas besar kami (peserta kuliah). Dosen tersebut akan memberitahu kalau scope kami terlalu kecil, tapi untuk yang terlalu besar akan membiarkannya sampai saat tertentu. Jadi apa kaitannya dengan perbincangan saya dan teman saya? Ini ada sedikit cerita tentang pembelajaran di organisasi sih, dimana mungkin ada pihak a yang terlalu baik dan selalu memikirkan pihak b yang masih perlu bimbingan. Semua pihak tentu masih perlu yang namanya bimbingan (graor, diksi ini malah membuat saya teringat bimbingan TA ~~). Jadi, untuk beberapa waktu pihak b ini sedang memiliki banyak masalah dan mungkin kemarin sempat 'jatuh' berkali-kali. Tapi, toh kalau mereka jatuh, disitulah letak mereka akan belajar kan? Namanya juga belajar, pasti pernah dan harus terjatuh, kalau belum pernah jatuh kita ga akan pernah belajar buat ngerasain sakit dan susahnya, kita juga ga akan pernah belajar buat bangun lagi dengan kekuatan sendiri. Intinya itu sih. Dibilang juga oleh dosen saya, orang sukses itu bukan orang yang selalu diberi kemudahan untuk melewati segala sesuatunya, melainkan orang yang terjatuh berkali-kali tapi selalu bisa bangun lagi.

~nice session~

Rabu, 26 September 2012

Mahasiswa Jadi-Jadian dan Media

Baru saja saya menyaksikan berita di televisi mengenai mahasiswa dari salah satu akademi di kota x. Tidak penting untuk saya sebutkan, karena kejadian yang akan saya ceritakan tidak hanya terjadi di tempat tersebut saja.

Sudah berkali-kali saya mendengar berita tentang mahasiswa yang membuat kisruh entah di dalam kampus ataupun di luar kampus ketika berunjuk rasa. Saya memang bukan seorang mahasiswa yang peduli terhadap isu sosial dan politik yang ada di negeri ini. Tapi, saya bukan mahasiswa yang senang melakukan tindakan tanpa pikir panjang.

Mahasiswa oleh sebagian besar masyarakat Indonesia itu dianggap sebagai segelintir orang berpendidikan. Alangkah baiknya kalau kita sebagai mahasiswa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat. Namun, berita yang baru saya lihat adalah mahasiswa yang merusak kampusnya sendiri. Memecahkan kaca jendela, melempar kursi dari lantai sekian lah, entah merusak apa lagi. Ugal-ugalan seperti itu pantaskah disebut mahasiswa? Menurut saya tidak.

Seringkali juga dikabarkan mahasiswa pengunjuk rasa yang membakar ban atau properti lainnya (bahkan  ada yang sampai membakar mobil). Adakah yang berpikir bahwa itu merusak properti dan aset negara? Yang kalau kita merusaknya malah menimbulkan kerugian untuk sebagian pihak. Sebagai mahasiswa, tentu saja kita ingin memperbaiki negara ini, bukan? Kalau tindakan yang dilakukan mahasiswa seperti itu, menurut saya tidak pantas disebut sebagai mahasiswa, tidak pantas disebut sebagai para pemikir, tidak pantas disebut sebagai calon penerus bangsa ini.

Well, saya hanya ingin meluruskan juga di sini kalau tidak semua mahasiswa seperti itu. Sebagian besar mahasiswa adalah mahasiswa yang sesungguhnya kok. Masih seorang manusia pembelajar yang berusaha memperbaiki negeri ini dengan caranya masing-masing. Hanya saja, media sekarang memang selalu membesar-besarkan sisi negatif dari suatu kasus. Mungkin agar beritanya menarik karena orang-orang sekarang tidak suka menyaksikan berita baik atau positif. Saya hanya berharap saja kalau media di negara kita ini bisa memberikan pengaruh positif bagi masyarakat kita dan tidak hanya mengejar 'rating' sehingga hanya memberikan informasi tidak penting bagi masyarakat. Pembunuhan, tawuran, bacok-bacokan, korupsi, gen motor, sinetron yang tidak mendidik dan hal buruk lainnya di negeri ini digembar-gemborkan dan bisa saja ditiru oleh generasi mudanya yang belum bisa mencerna dengan baik hal-hal tersebut.

~harapan dan sedikit curcol seorang mahasiswa tingkat akhir yang baru punya tv di kosan tapi sama sekali tidak menemukan acara bermutu~

Rabu, 19 September 2012

Topic Will Find Its Way

Sudah memasukki minggu keempat di tahun keempat. Saya sudah tidak memiliki kegiatan seabrek di luar akademis. Kebetulan sedang tidak memegang amanah apapun di himpunan. Fokus saya semester ini sepertinya hanya pada 22 sks dan part time yang sempat saya ceritakan sekilas di postingan sebelum ini. Satu masalah utama saya beberapa minggu terakhir ini adalah penentuan topik TA. Sebenarnya, sampai sekarang pun saya masih belum memiliki topik pasti apalagi dosen pembimbing. Di saat yang lain ada yang sudah mengajukan proposal, mulai mencari-cari bahan untuk tugas akhirnya, saya masih stuck dalam pencarian topik.

Sudah sering saya mengobrol dan bertanya ke teman, kakak-kakak angkatan, bahkan sudah sempat mengobrol dengan salah satu dosen. Tapi, entah mengapa keyakinan untuk menetapkan hati pada satu topik TA masih sangat sulit dilakukan. Mungkin benar apa kata Diani tadi siang, terlalu banyak constraint yang saya pikirkan. Padahal, dari obrolan-obrolan saya tersebut, saya seharusnya punya banyak cara menentukan topik.

Q. Kamu suka apa?
A. Saya pun bingung saya suka bidang apa.
Q. Buat saja satu aplikasi yang bisa berguna buat kita sendiri.
A. Saya tidak tahu apa yang saya perlukan.
Q. Temukan permasalahan apapun yang selama ini kamu lihat, kemudian coba cari solusinya.
A. I dont see any problem around me. There must be lots, but none is considerable for me.
Q. Ya udah, kalau gitu coba saja mulai memangkas pilihan lab/kk dari yang kamu paling tidak suka.
A. SisTer pasti tidak akan saya pilih, never ever ever. Sepertinya sudah cenderung memilih membuat aplikasi a.k.a terpaksa ngoding agar cepat lulus (*)

(*)bukan percakapan dengan satu orang

Akhirnya, tadi siang untuk kedua kalinya saya pergi ke perpustakaan IF guna mencari topik. Saya ke sana dengan Chita sepulang dari Gramedian dan BIP bersama Diani. Bertemu dengan coach Gabun di perpus dan dibilang GAIB itu bisa cepat lulus. Sedikit lebih memantapkan hati untuk memilih lab GAIB setelah ditambahkan dengan 'konsultasi' bersama Diani di Gramedia sesaat sebelumnya.

Mulailah saya mencari textbook yang berkaitan dengan Artificial Intelligence di rak-rak buku. Membaca judulnya, terlihat menarik atau tidak, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Hingga tibalah saya pada rak buku hampir terakhir yang mau saya lihat. Berwarna jingga dengan gambar seperti Tazmania Devil. I picked that up just to show Chita what I've found. A cute book of Artificial Intelligence.

Saya: Chit, chit, chit. Lihat deh! Onyo gini bukunya. Coba kemarin AI bukunya ini, semangat dah belajarnya. #eh
Chita: Dibacalah.
Saya: Ga berani bukanya.
Chita: *ngebuka bukunya* *sang buku memperlihatkan tulisan-tulisan yang terlihat memalaskan dan juga statistik-statistik entah apa*
Saya: Ah, dalemnya tetep begini. *tapi karena bingung mau ngapain lagi, akhirnya memutuskan untuk membacanya* *masih berharap akan menemukan sesuatu yang menarik*

Mulailah saya dengan membolak-balikan halaman daftar isi. Ada satu judul subbab yang cukup menarik tentang german mechanics dan italian love. But that's not the one I see. Saya melihat kata demon di salah satu halaman dan tertarik membacanya. Ternyata demon tersebut ada di bab Frame-Based Expert System. Sepertinya menarik, saya lanjut baca sampai hampir pukul 2. Singkat cerita sekarang saya sudah menetapkan hati akan mengambil topik dengan konsep tersebut meskipun belum tahu konsepnya sebenarnya bagaimana karena baru membacanya sepintas. Saya juga belum tau konsep itu akan saya apa kan. Tapi, setidaknya saya sudah menentukan pilihan teman saya hingga tahun depan.

Terima kasih untuk semua orang yang telah saya repotkan dengan beragam pertanyaan berkaitan topik TA :)

Kamis, 13 September 2012

Decide What I Like!

One hardest thing to do for me is to decide. I never have such good ability in decision making for any problem even the light one. Recently, I have been facing a problem to decide which topic I am gonna choose for my final assignment. Every single person I have asked always asked me back about the same thing, 'What do you like?'. I know best that if you do what you like, you will enjoy doing it even though you do the hardest thing ever. Ya, as long as you enjoy your work and love what you do.

I have been an informatics engineering student for over three years now. It's my last year and I have to work on my final assignment in order to graduate as an engineer. But, after three weeks since the school has started, I still don't have any ideas for my topic. I have already asked my senior and anyone I could consult to, but still got nothing. How can I make any decision? I don't even know what I like. I always feel uncertain when making decision.

There are already about 50s topics for the final assignment, but I still can't pick one that is suitable for me. This weekend I must have submitted my choice. Oh, God! Why is making decision being this hard?

Kamis, 06 September 2012

Bersyukur :)

Di beberapa postingan sebelumnya, saya menulis tentang kecerobohan saya yang sudah menghilangkan ponsel saya untuk yang kedua kalinya. Nah, sekarang saya ingin bercerita sedikit betapa bersyukurnya saya saat ini.

Di saat saya kehilangan ponsel saya yang usianya belum genap 9 bulan itu, saya sedih. Tentu saja sedih. Tapi, karena diingatkan oleh ibu saya agar diikhlaskan saja karena mungkin memang bukan rezeki saya, saya sama sekali tidak menangis karena kehilangan tersebut. Ya sudah, ikhlaskan saja, walaupun melupakan cukup lama. Hahaha. Di tambah, ketua divisi saya di himpunan yang baru ganti ponsel yang sama seperti milik saya yang hilang kemarin juga memakai ringtone yang sama untuk notifikasinya. Hoft. Teringat teringat. Tapi tetap berkata di dalam hati, ikhlas, ikhlas.

Ikhlas memang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Sulit. Kalau ingat film lama, Kiamat Sudah Dekat, ilmu ikhlas lah yang dipelajari pada tingkatan yang tinggi dalam memeluk agama Islam. Di saat kita sudah menjadi master ilmu ikhlas, sepertinya hidup ini akan selalu tenang. Seperti selalu diingatkan kalau apapun yang kita miliki saat ini, sebenarnya hanyalah milik Allah semata. Kita semua hanya dititipkan barang-barang tersebut oleh Allah. Tapi, kita juga harus menjaganya dengan baik.

Mungkin, kemarin saat kehilangan ponsel, masih ada hak orang lain di situ yang belum tersampaikan. Mungkin, saya masih dianggap belum cukup baik untuk menjaga amanah berupa ponsel Samsung Galaxy Y tersebut. Mungkin, Allah ingin mengajarkan saya ilmu ikhlas. Mungkin, Allah ingin memberikan rezeki yang lebih kepada saya setelah membersihkan 'kekayaan' saya. Mungkin, saya diingatkan untuk lebih banyak bersedekah, untuk lebih bisa menjaga amanah yang diberikan-Nya akan barang-barang yang dititipkan kepada saya. Mungkin, saya diingatkan untuk lebih bersyukur akan apa yang saya punya. Mungkin, ya, mungkin masih sangat banyak pembelajaran dari kehilangan tersebut.

Rezeki itu kata orang tidak akan pergi kemana. Sepertinya kali ini hal tersebut saya rasakan secara langusung. Hampir dua minggu sudah saya kehilangan ponsel. Tidak, ponsel saya tentunya tidak kembali. Oleh karena itu, saya berencana untuk menabung. Saya sedang menabung untuk membeli ponsel baru. Saya tidak berani meminta begitu saja kepada ayah saya karena baru menghilangkan ponsel. Menabunglah saya. Sudah mulai mengurangi pengeluaran yang sekiranya tidak perlu.

Tiba-tiba, kemarin malam, salah seorang senior saya di himpunan mengirim pesan melalui salah satu jejaring sosial *yang baru saya buka tadi siang*. Isinya mengenai lowongan kerja part time. Beberapa hari yang lalu, saya memang sempat ingin bekerja part time, tapi saya yakin tidak akan diizinkan oleh orang tua saya. Kalau kata teman saya, 'mroyek lah'. Hadeuuh, saya terlalu pemalas untuk ikutan proyek. Saya ingin pekerjaan yang sederhana, tidak memakan banyak waktu, dan tentu saja mudah untuk dikerjakan. Daaaan, saya mendapat tawaran pekerjaan tadi siang. Masih belum pasti sih, namun hampir pasti sepertinya. Setelah mendengar pekerjaan tersebut mudah, tidak merepotkan, dan gajinya yang cukup lumayan :). Alhamdulillah, rezeki memang tidak pergi kemana. Rencananya, hari Sabtu siang besok saya akan bertemu dengan salah seorang dosen untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pekerjaan tersebut. Semoga segala sesuatunya berjalan lancar. Amin.